Antara Al-Lahab dan Qasad ‘Ainy: Catatan Seorang Jamaah yang Terlalu Mengerti Bahasa Arab

by - 6:00 AM


Pembuka: Bahaya Kecil Bernama “Mengerti”

Ada fase hidup ketika ketidaktahuan adalah rahmat.
Saya pernah di sana. Hafal juz amma, jadi imam sholat, lancar bacaan. Damai. Tenang. Hidup lurus.

Lalu saya belajar bahasa Arab.

Sejak itu, sholat berubah dari sekadar ritme menjadi dialog batin yang ribut. Bukan karena kurang iman—justru karena terlalu paham. Setiap ayat kini membawa arti. Setiap arti membawa emosi. Dan emosi tidak selalu patuh pada tata cara ibadah.

Di titik itulah saya mulai lebih waspada memilih surat pendek dalam sholat. Bukan karena takut ayat keras, tapi karena batin saya tidak selalu siap diajak debat teologis saat sedang rukuk.


Bab I: Al-Lahab dan Disonansi Spiritual

Suatu hari, saya menjadi imam.
Saya membaca Al-Fatihah. Lalu—entah refleks hafalan atau autopilot—saya lanjutkan dengan Surat Al-Lahab.

Secara fiqh: sah.
Secara hafalan: lancar.
Secara batin: loh kok begini rasanya?

Karena saya paham artinya.

Ini surat tentang laknat. Tentang kebencian ilahi. Tentang paman Nabi yang dikutuk secara eksplisit. Ini bukan puisi kontemplatif. Ini pamflet kosmik.

Dan di tengah sholat—ritual yang saya pahami sebagai ruang pendinginan batin—saya justru sedang melafalkan sumpah serapah.

Saya tidak panik. Tapi saya mencatat dalam hati:

“Oke. Lain kali, pilih surat yang ramah emosi.”

Sejak itu, Al-Ikhlas, Al-Asr, Ad-Dhuha jadi pilihan aman.
Bukan karena Al-Lahab salah.
Tapi karena saya sudah tahu artinya.


Bab II: Majelis Ta’lim dan Lagu yang Salah Tempat

Puncak slapstick datang bukan dari sholat.
Tapi dari speaker masjid.

Suatu hari, terdengar lantunan lirih ibu-ibu majelis ta’lim. Suaranya khusyuk. Ritmenya mendayu. Atmosfernya sakral. Seakan-akan sedang bersholawat penuh cinta kepada Nabi.

Lalu kuping saya—yang sialnya paham bahasa Arab—menangkap liriknya:

Qasad ‘ainy…
Habibtak…
Ya tabtab wa dalla…

Saya berhenti.
Saya cek ulang kuping saya.
Saya tahan tawa.

Karena itu lagu pacaran. Lagu rindu. Lagu birahi lembut. Lagu “aku cinta kamu dan ingin dimanja”—bukan sholawat, bukan qasidah, apalagi dzikir.

Ini bukan penghinaan. Ini fakta linguistik.

Yang terjadi di sana bukan kemaksiatan.
Yang terjadi adalah kemenangan bunyi atas makna.


Bab III: Ketika Bunyi Lebih Dipercaya daripada Arti

Ini fenomena antropologi klasik:

  • Bahasa asing = dianggap suci
  • Bunyi Arab = otomatis religius
  • Tidak paham arti = aman dari rasa malu

Ibu-ibu itu tidak berniat salah. Mereka tulus. Mereka khusyuk. Mereka merasa sedang mencintai Nabi.

Masalahnya cuma satu:

Bahasa Arab bukan hanya milik masjid, tapi juga milik manusia jatuh cinta.

Dan cinta—dalam bentuk apapun—punya kosakata yang sama: rindu, pandangan mata, sentuhan, kelembutan.

Saya tertawa bukan karena mereka bodoh.
Saya tertawa karena saya melihat jurang kecil antara niat dan makna.


Bab IV: Etika Baru Seorang yang “Kebanyakan Tahu”

Sejak kejadian itu, saya mengambil sikap sederhana:

  1. Saya tidak menegur.
  2. Saya tidak membenarkan.
  3. Saya menyimpan tawa sebagai refleksi diri.

Karena saya sadar:
kalau saya tidak belajar bahasa Arab, saya juga akan ikut mengamini.

Dan saya sadar satu hal penting:

Mengerti itu tanggung jawab, bukan keistimewaan.

Maka:

  • saya lebih selektif memilih surat
  • saya lebih lunak melihat kekeliruan
  • saya lebih sering tertawa pelan daripada merasa paling benar

Penutup: Iman, Bahasa, dan Kemampuan Menahan Tawa

Sejak itu saya paham:

  • tidak semua yang terdengar religius itu ibadah
  • tidak semua ibadah perlu suara keras
  • dan tidak semua kesalahan perlu dikoreksi di tempat

Ada kalanya, tertawa diam-diam adalah bentuk rahmat.

Dan saya bersyukur masih bisa tertawa.
Karena orang yang masih bisa tertawa—terutama pada dirinya sendiri—biasanya belum siap jadi hakim Tuhan.

😅


You May Also Like

0 komentar