Iman, Bahasa, dan Miskomunikasi yang Terlalu Manusiawi
Pada akhirnya, saya harus mengakui satu hal yang agak memalukan tapi jujur:
saya sering merasa paham, padahal cuma mengenali bunyi.
Ini bukan dosa besar. Ini dosa receh—tapi konsisten.
Sejak kecil, saya dibesarkan dengan logika implisit yang rapi:
- bahasa Arab = Islam
- Sunda = Islam
- nada mendayu = sholawat
- huruf hijaiyah = pahala
Logika ini nyaman. Hemat energi. Tidak perlu bertanya.
Masalahnya, dunia tidak pernah tanda tangan kontrak untuk ikut logika saya.
Ketika Saya Sholat, Tapi Batin Saya Protes
Ada satu fase ketika saya jadi imam, membaca Al-Lahab, dan justru gelisah sendiri.
Bukan karena ayatnya salah.
Bukan karena Al-Qur’annya bermasalah.
Masalahnya ada di saya:
saya paham artinya.
Dan tiba-tiba sholat yang seharusnya menenangkan, berubah jadi monolog sumpah serapah lintas zaman.
Saya berdiri khusyuk, tapi batin saya nyeletuk:
“Kok kita sholat sambil ngutuk orang ya?”
Di situ saya belajar satu hal sederhana tapi penting:
tidak semua surat pendek cocok untuk semua batin, di semua fase hidup.
Dan itu tidak membuat iman saya runtuh.
Justru membuatnya lebih jujur.
Ibu-Ibu, Speaker Masjid, dan Lagu Birahi yang Disangka Sholawat
Lalu ada adegan yang membuat saya hampir memastikan kuping sendiri: ibu-ibu majelis ta’lim melantunkan sesuatu dengan penuh perasaan:
qusad ‘ainy, habaitak, ya tabtab wa dalla…
Saya bengong.
Ini bukan sholawat.
Ini lagu cinta Arab. Lagu pacaran. Lagu “aku tergila-gila padamu”.
Dan saya tertawa—bukan menertawakan mereka, tapi menertawakan asumsi saya sendiri.
Karena saya juga bagian dari masalah:
- saya ikut percaya bahwa semua yang berbahasa Arab otomatis sakral
- saya ikut mengira bahwa cinta hanya sah kalau dibungkus religius
- saya lupa bahwa bahasa Arab juga milik manusia jatuh cinta, bukan cuma mimbar dan mihrab
Kalau ada orang Arab Kristen baca Injil berbahasa Arab, dan saya lewat tanpa paham konteks, besar kemungkinan saya akan mengira itu kuliah subuh.
Dan itu salah saya. Bukan salah dunia.
Amin, Amin, Amin—Ketika Bunyi Mengalahkan Makna
Saya teringat Bajaj Bajuri.
Orang Arab marah-marah, semua orang Indonesia refleks bilang: amin.
Lucu? Iya.
Dangkal? Juga iya.
Jujur? Sangat.
Karena kita memang sering:
- tidak mendengar makna
- hanya mengenali pola
- dan merasa saleh karena refleks budaya, bukan karena paham isi
Di titik ini saya sadar:
yang sering kita rawat bukan iman, tapi kebiasaan.
Dan kebiasaan tidak pernah suka ditanya.
Sunda, Arab, dan Kesalahan yang Terlalu Umum
Saya juga harus mengakui satu kebodohan kolektif yang saya warisi dengan bangga:
- mengira semua orang Sunda itu Islam
- mengira semua orang Arab itu Muslim
Padahal ada:
- pendeta Sunda
- misa berbahasa Sunda
- teologi Kristen dibahas dengan logat “punten”
Lucu? Iya.
Mengganggu asumsi? Banget.
Tapi justru di situ letak pelajarannya: yang lucu itu bukan iman orang lain, tapi kepastian palsu di kepala saya.
Jadi, Apa yang Tersisa?
Yang tersisa bukan sinisme.
Bukan relativisme murahan.
Bukan juga tawa kosong.
Yang tersisa adalah kewaspadaan kecil:
- bahwa bahasa itu alat, bukan jaminan iman
- bahwa bunyi tidak selalu membawa niat
- bahwa paham sering kalah cepat dari refleks
Dan bahwa tertawa—kalau arahnya ke diri sendiri—
bisa jadi bentuk ibadah paling jujur yang saya mampu.
Saya masih sholat.
Masih tersentuh ayat.
Masih belajar percaya.
Tapi sekarang dengan satu catatan kaki besar di batin:
“Pelan-pelan. Jangan merasa paham hanya karena terdengar akrab.”
Kalau iman itu perjalanan,
maka humor adalah rambu kecil yang mengingatkan:
jangan terlalu serius sampai lupa bertanya,
dan jangan terlalu yakin sampai lupa tertawa.
—
Epilog ini ditulis oleh seseorang yang sering mengira dunia sederhana,
lalu tertawa sendiri saat sadar: ternyata yang sederhana cuma kepalanya. 😅
0 komentar