Aki Koronjo Kosong dan Pemberontakan yang Terlalu Sopan

by - 11:08 PM

Setelah Pak Mali dan Bu Mali sukses mengguncang fondasi keluarga, benih pemberontakan saya tidak berhenti. Ia merembet. Menyusup. Berkembang biak.

Ibu saya pusing tujuh keliling, bukan karena saya nakal, tapi karena saya terlalu patuh pada logika.

Kami tumbuh sebagai keluarga muslim yang cukup rapi urusannya. Keluar rumah baca doa, selesai. Tuhan, jalan, pulang. Simpel.
Masalahnya, doa itu ternyata tidak berdiri sendiri.

Setiap mau keluar rumah, ibu saya menambahkan satu rapalan bonus, nadanya lirih tapi serius:

Aki koronjo kosong,
Nini koronjo kosong,
Kosongin jalan yang akan saya lalui…

Sebagai anak yang sudah terbiasa hidup di bawah bayang-bayang hantu, pamali, dan neraka ilustratif, saya tidak langsung takut. Saya justru… penasaran.

Karena pola saya konsisten sejak kecil:
kalau namanya disebut, berarti entitasnya jelas.

Dan di situlah pemberontakan naik level.

Saya bertanya pelan, sopan, penuh niat baik:

“Bu… itu aki koronjo kosong siapa?”
“Terus nini koronjo kosong istrinya ya?”
“Kenapa harus dikosongin? Jalan kan rame karena manusia.”

Ibu saya… diam.

Bukan diam marah.
Diam perang batin.

Saya bisa melihatnya.
Tatapan kosong khas orang dewasa yang sedang berpikir:
ini anak bener, tapi kok bikin saya goyah.

Saya sadar sekarang, kristalisasi hantu, pamali, aki koronjo kosong itu lebih lama mengendap di batin ibu dibanding saya.
Ibu hidup di zaman di mana bertanya bukan kebiasaan, melainkan risiko.
Sedangkan saya tumbuh di sela retakan itu—cukup muda untuk bertanya, cukup tua untuk takut.

Lucunya, waktu berjalan.
Dan ibu pelan-pelan… melepaskan.

Buktinya jelas.
Saat berhaji, ibu saya tidak membawa jimat.
Tidak membawa rapalan lokal.
Tidak membawa aki, nini, atau tas kecil berisi “jaga-jaga”.

Padahal saya lihat sendiri, banyak jamaah lain membawa itu semua.
Ada yang nyelip di tas.
Ada yang digenggam.
Ada yang lebih yakin pada benda kecil daripada paspor.

Ibu saya tidak.

Dan di situ saya paham:
ibu bukan tidak logis.
Ibu pernah kelelahan menjelaskan, lalu memilih jalan pintas.

Saya tidak membenci budaya lokal.
Saya mencintainya sepenuh hati.
Wayang golek, seni, tradisi—itu akar. Itu indah. Itu identitas.

Tapi pamali, aki koronjo kosong, nini koronjo kosong?
Saya akan terima. Sungguh.
Asal logikanya ajeg.

Bukan cuma:
“jangan nanya”
“pokoknya begitu”
“nanti neraka”

Plis deh.

Sekarang, kalau saya menengok ke belakang, saya tidak marah.
Saya malah tersenyum.

Ternyata ibu saya bukan kalah oleh pertanyaan saya.
Ia hanya memilih diam agar tidak merobohkan bangunan batinnya sendiri.

Dan saya?
Saya tumbuh menjadi orang yang tetap mencintai budaya,
tapi tidak lagi takut bertanya siapa penghuni jalan yang katanya harus dikosongkan.

Kalau nanti saya bertemu Aki Koronjo Kosong,
saya mungkin tidak lari.

Saya akan tanya dengan sopan:

“Ki, maaf, ini jalan umum.
Kalau mau lewat, antri ya.”

😄

You May Also Like

0 komentar