Kami yang Tumbuh dari Ketakutan, Lalu Memilih Jalan Berbeda
Untuk diri saya sendiri, rasanya cukup.
Urusan rebel hantu, pamali, dan pertanyaan-pertanyaan logis ke ibu… saya sudahi di sini.
Bukan karena kalah, tapi karena sudah paham.
Sebenernya argumen saya waktu kecil itu banyak. Banyak banget.
Versi anak kecil yang kepalanya riuh, tapi hatinya jujur.
Dan mungkin itu juga alasan kenapa saya jadi ambisi melanjutkan pendidikan.
Sederhana saja niatnya:
plis gue ga mau suatu hari bilang “pamali” ke anak gue, sementara gue sendiri ga tau itu pamali siapa, dari mana, dan kenapa.
Saya baru sadar, saya tidak sendirian.
Ada satu abang kandung saya.
Traumanya… persis seperti saya.
Bedanya cuma satu: jalur pelariannya.
Saya memilih refleksi.
Dia memilih tawuran.
Khas remaja sekolah zaman itu:
bawa sajam, rokok, adrenalin, keributan.
Anehya, tidak narkotika.
Seolah ia cuma ingin melampiaskan kebingungan, bukan menghancurkan diri sepenuhnya.
Masuk penjara.
Pendampingan orang tua.
Selesai.
Dan saya paham sekarang.
Itu bukan sekadar kenakalan.
Itu reaksi terhadap sistem pendidikan berbasis takut yang sama-sama kami telan.
Saya bertanya pamali.
Dia memukul kebingungan dengan tinju.
Lucunya, setelah semua “keras” itu,
kami punya satu kesamaan yang absurd:
takut hantu.
Saya sudah sembuh.
Abang saya… belum sepenuhnya.
Rumahnya di ujung jalan.
Lampu jalan minim.
Pulang lembur malam-malam, dia nelpon istrinya:
“Mah… jemput ya.”
Istrinya tidak bisa naik motor.
Jadi ia jalan kaki menyusuri jalan temaram,
demi menjemput suami gagah yang pernah tawuran,
pernah bawa sajam,
pernah masuk penjara…
…tapi takut gelap.
Duh.
Kalau dipikir-pikir, lucu banget sampai pengen ketawa sambil ngelus dada. 😂
Dan di titik ini, saya merasa damai.
Mungkin suatu hari saya akan ajak abang saya duduk.
Ngopi.
Ngobrol santai.
Tentang hantu itu apa.
Tentang pamali itu dari mana.
Tentang kenapa kita berdua tumbuh dengan cara yang berbeda, tapi luka yang mirip.
Kalau perlu,
kita sama-sama nampolin si hantu kurang ajar itu.
Bukan karena hantu itu nyata,
tapi karena ketakutan yang diwariskan tanpa penjelasan terlalu lama dibiarkan berkuasa.
Dan anak saya?
Biarlah ia tidak kenal pamali.
Kalau ia menegur saya dengan logika,
itu bukan durhaka.
Itu tanda:
rantai takutnya sudah putus.
Dan itu…
cukup.
0 komentar