Saya Takut Karena Ditakuti, Anak Saya Bertanya Karena Aman
Saya baru sadar satu hal yang kelihatannya sepele, tapi setelah dipikir-pikir bikin saya berhenti ketawa di tengah kalimat.
Saya ini orang yang gampang ngobrol dengan siapa saja. Orang random, orang aneh, orang absurd, yang ngomongnya lompat-lompat, yang pakai logika miring—selama dia manusia, ayo ngobrol. Buat saya, dunia ini isinya ya manusia. Titik. Tidak perlu filter rumit.
Lalu suatu hari, saya melihat anak saya.
Ada paman. Orang dewasa. Baru ketemu. Orangnya ramah, ngajak jajan. Situasi yang kalau di versi masa kecil saya, ya ikut saja. Jalan. Hidup adalah petualangan, atau minimal ya nurut karena orang dewasa selalu benar.
Anak saya tidak jalan.
Ia menoleh ke saya, wajahnya serius tapi tenang, lalu bertanya,
“Ayah, kakak boleh pergi sama orang ini?”
Saya refleks ketawa.
Lucu. Gemas.
Lalu… saya berhenti.
Karena itu bukan takut.
Itu bukan manja.
Itu bukan penakut.
Itu kesadaran akan rasa aman.
Waktu kecil, saya tidak punya kosakata itu. Yang ada hanya: jangan nangis, jangan marah, jangan lebay, jangan ribet. Dan bonusnya: nanti ada hantu.
Saya tumbuh bukan dengan obrolan, tapi dengan peringatan. Bukan dengan dialog, tapi dengan ancaman suasana. Aman bukan sesuatu yang bisa diminta. Aman itu sesuatu yang kalau hilang, ya ditahan saja.
Mungkin itu sebabnya saya sekarang gampang ngobrol dengan orang random. Karena dunia pernah terasa sunyi, dan manusia—siapapun—adalah bukti bahwa saya tidak sendirian. Ngobrol bukan sekadar basa-basi, tapi cara saya menormalkan dunia.
“Tenang, ini manusia. Bisa diajak ngomong.”
Saya belajar itu sendiri.
Anak saya tidak belajar seperti itu.
Ia belajar bahwa rasa aman boleh diverifikasi.
Bahwa izin bukan tanda lemah, tapi tanda sadar.
Bahwa dunia bisa dijelajahi, tapi tidak harus asal nyemplung.
Makanya ia bertanya.
Dan di situlah saya berhenti ketawa.
Karena saya sadar:
yang satu tumbuh karena bertahan,
yang satu tumbuh karena dirawat.
Lucunya, saya sering merasa diri saya fleksibel, luwes, cepat adaptasi. Tapi ternyata fleksibilitas itu lahir dari kekosongan dialog. Sedangkan anak saya, yang kelihatannya “ribet”, justru sedang membangun radar internal.
Ia tidak anti manusia.
Ia hanya memastikan: aman dulu, baru jalan.
Ironis ya.
Saya yang dulu ditakuti hantu, sekarang santai ngobrol sama orang asing.
Anak saya yang tidak pernah ditakuti hantu, justru tahu kapan harus tanya.
Di situ saya paham satu hal penting:
tidak semua keberanian lahir dari keberanian.
Sebagian lahir dari keterpaksaan.
Dan tidak semua kehati-hatian itu ketakutan.
Sebagian adalah hasil pengasuhan yang hadir.
Saya tidak ingin anak saya menjadi saya versi kecil.
Dan ternyata, tanpa sadar, saya berhasil.
Lucu.
Sedikit menampar.
Tapi menenangkan.
Karena akhirnya saya bisa berkata jujur ke diri sendiri:
saya ngobrol ke mana-mana karena dulu sepi,
anak saya bertanya karena ia tahu, pulang itu selalu ada.
Dan itu…
bukan masalah yang perlu diperbaiki.
Itu cuma sebab–akibat yang akhirnya saya pahami.
0 komentar