Baju yang Terlalu Cepat Diberikan
Ada anekdot lama yang sering lewat begitu saja, biasanya diselipkan sambil ketawa:
“Kalau pacaran jangan ngasih baju ke pacar, nanti putus.”
Kalau dipikir pakai logika lurus, jelas tidak relevan. Baju ya baju. Katun, polyester, kadang diskonan. Tidak punya kekuatan magis memutuskan hubungan manusia. Tapi anehnya, cerita ini hidup. Bertahan. Bahkan sering terasa kejadian beneran.
Saya tidak berusaha membuktikan atau membantahnya. Ini bukan soal benar atau salah. Lebih ke: kok bisa ya, mitos receh ini awet?
Lalu pikiran iseng saya melompat ke tempat lain. Ke panggung yang lebih besar. Ke dunia kampanye pemimpin. Di sana, baju juga dibagikan. Banyak. Massal. Bergambar wajah. Dikasih gratis, dengan senyum, dengan janji.
Dan setelah pemilihan selesai—terpilih atau tidak—hubungan itu sering kandas. Tidak ada lagi sapa. Tidak ada lagi kepedulian. Baju tinggal baju. Dipakai tidur, jadi lap, atau hilang entah ke mana.
Tiba-tiba anekdot tadi terasa punya pola yang sama.
Bukan karena bajunya. Tapi karena relasi yang dipercepat oleh simbol.
Memberi baju itu seperti berkata, “Ini aku, pakai ya.”
Padahal hubungan—entah pacaran atau politik—butuh waktu untuk tumbuh, bukan sekadar ditempeli identitas.
Mungkin itu sebabnya mitos ini bertahan. Bukan karena mistis, tapi karena manusia sering menaruh harapan terlalu cepat pada sesuatu yang kelihatannya intim, padahal belum matang. Baju menjadi penanda: kita merasa sudah dekat, padahal belum benar-benar kenal.
Jadi kalau ada yang masih percaya anekdot itu, tidak apa-apa. Anggap saja pengingat ringan. Bukan larangan keras. Bukan hukum alam. Hanya senyum kecil dari pengalaman kolektif manusia yang sering terburu-buru.
Lagipula, yang bikin putus bukan bajunya.
Yang bikin kandas biasanya ekspektasi yang dikasih lebih dulu daripada relasinya.
Dan ya, tulisan ini memang cuma intermezo.
Kalau kamu nyengir sedikit saat membacanya, berarti sudah cukup.
0 komentar