Rotan, Matras, dan Cara Saya Tidak Mengulang Suara Lama
Kadang saya heran sendiri, kok bisa sejauh ini jaraknya antara masa kecil saya dan masa kecil anak saya. Padahal selisihnya cuma satu generasi, bukan satu abad. Tapi rasanya seperti dua dunia dengan hukum alam yang berbeda.
Zaman saya, pendidikan itu nadanya keras. Bukan cuma di sekolah, tapi juga di rumah. Kalimat-kalimatnya berat, menekan, kadang kejam. Neraka disebut-sebut seperti alat pemukul yang sah. Salah dikit, bukan ditanya kenapa, tapi langsung dihajar: kata-kata dulu, fisik menyusul. Saya masih ingat pahanya, cukup kenyang disabet rotan guru. Pulang ke rumah berharap setidaknya ada jeda, tapi tidak. Orang dewasa lain melanjutkan. Seolah tubuh ini papan tulis yang sah untuk menuliskan “disiplin”.
Di dalam, batin saya teriak keras. Tapi teriakan itu tidak ke mana-mana. Titik. Tidak ada lanjutannya. Dan saya memang tidak mau membahas luka itu panjang-panjang. Itu sudah lewat. Yang ingin saya pahami justru dampaknya.
Kami tumbuh kuat secara fisik. Tahan banting. Kerja keras. Dimarahi tidak runtuh. Disakiti dianggap biasa. Tapi belakangan saya sadar, banyak dari kami juga tumbuh dengan batin yang bocor. Ada yang dingin, ada yang mudah kejam. Bukan karena jahat sejak lahir, tapi karena lama hidup di dunia yang mengajarkan: yang kuat menang, yang lembut kalah. Dalam kerangka itu, empati bukan keahlian penting. Kejujuran bukan alat bertahan hidup. Jadi ketika sebagian dari generasi saya kemudian duduk di kursi kuasa dan tergelincir jadi korup, rasanya tidak sepenuhnya misterius. Itu bukan pembenaran, tapi penjelasan. Pola asuh menanam benihnya pelan-pelan.
Lalu saya melihat anak saya. Sekolahnya relatif aman. Kata-katanya bernapas. Gurunya ramah. Tidak ada ancaman neraka setiap kesalahan. Tidak ada tangan yang ringan menghukum. Dan jujur saja, ada momen saya bingung. Kok kelihatannya rapuh? Kok sedikit-sedikit nangis? Kok seperti tidak siap menghadapi dunia yang, saya tahu betul, tidak selalu ramah?
Di situ saya harus jujur pada diri sendiri: mungkin bukan mereka yang lemah, tapi standar “kuat” saya yang dibentuk oleh kekerasan. Anak-anak sekarang tumbuh dengan batin yang relatif aman, tapi belum tentu otot ketahanan mereka terlatih. Bukan salah mereka. Ancaman zamannya berbeda. Kami dulu diserang dari luar, mereka sekarang lebih sering diserang dari dalam—tekanan mental, kebingungan, tuntutan tak kasat mata.
Saya tidak ingin jatuh ke dua ekstrem yang sering muncul. Satu, menganggap semua tangis itu remeh: ah, namanya juga anak-anak. Dua, yang lebih berbahaya: kamu dipukul? Pukul lagi sana. Dua-duanya sama-sama malas berpikir. Dua-duanya sama-sama mewariskan masalah.
Maka saya pilih jalan tengah, meski jalur ini sepi dan tidak selalu kelihatan keren. Anak saya ikut taekwondo. Bukan supaya jago berantem, tapi supaya tubuhnya kenal realitas. Jatuh itu sakit. Dibanting itu nyata. Tapi sakit tidak sama dengan dihukum. Suatu kali dia nangis setelah terbanting. Saya dekati, saya tenangkan pelan. Saya bilang: ini latihan. Tidak apa-apa. Kita lanjut kalau sudah siap. Tidak ada bentakan. Tidak ada sabetan tambahan sebagai bonus pulang.
Di situ saya merasa ada sesuatu yang putus. Rantai lama itu. Dulu, nangis berarti lemah, dan kelemahan harus “dibereskan”. Sekarang, nangis saya perlakukan sebagai sinyal, bukan dosa. Emosi saya akui, tapi perilaku tetap saya arahkan. Marah boleh. Memukul tidak. Takut wajar. Menyerah tidak harus.
Saya tahu ada stigma tentang generasi sekarang: mudah mengeluh, gampang lelah, memilih nganggur daripada capek psikologis. Tapi saya melihatnya begini: mereka lebih sadar pada batin, tapi belum tentu punya alat untuk menahan tekanan. Kami dulu tahan, tapi sering tidak paham apa yang kami tahan. Dua-duanya setengah matang. Tugas sayalah, mungkin tugas kami yang berada di tengah-tengah ini, untuk menyambungkan.
Saya tidak ingin anak saya tumbuh keras tapi mati rasa. Saya juga tidak ingin dia lembut tapi rapuh. Saya ingin dia kuat tanpa kehilangan rasa aman. Bisa jatuh tanpa malu. Bisa capek tanpa merasa gagal sebagai manusia. Bisa membela diri tanpa perlu balas dendam.
Sekarang, kalau anak nangis, berantem, ribut—saya tidak berhenti di “namanya juga anak-anak”. Saya duduk. Saya dengar. Saya arahkan. Dan ketika saya merasa hidung ini sedikit mekar karena bangga, saya biarkan saja. Bangga yang tahu asal-usulnya, tahu tujuannya.
Dulu saya diajari bertahan hidup. Anak saya saya ajari merasa aman. Tugas saya sekarang satu: mengajarinya menghadapi dunia tanpa mengulang suara-suara lama yang dulu membuat batin saya berteriak sendirian.
0 komentar