Bukan Pesannya yang Salah, Tapi Wadahku Terlalu Peka
Saya sampai pada satu kesimpulan yang terasa sederhana, tapi butuh waktu sangat panjang untuk berani mengucapkannya dengan tenang:
yang salah bukan saya, dan bukan Tuhan. Yang perlu dirapikan hanyalah cara pesan itu dulu masuk ke batin saya.
Saat kecil, saya tidak punya kuasa apa pun selain menerima. Tidak ada ruang tawar, tidak ada pilihan diksi, apalagi hak untuk berkata, “tunggu, saya belum paham.” Dunia orang dewasa datang sebagai suara yang utuh, final, dan tidak boleh dipertanyakan. Jika ada yang terasa perih, refleks paling logis bagi seorang anak adalah menyimpulkan: mungkin saya yang salah.
Saya sering bertanya pada diri sendiri, kenapa saya tidak seperti bocah lain pada umumnya. Datang ke sekolah ngaji, mendengar penjelasan guru, lalu selesai. Masuk kuping kanan, keluar jadi gorengan. Hidup berjalan ringan, tidak ada beban yang tertinggal di dada. Sementara pada diri saya, setiap kalimat tidak pernah sekadar lewat. Ia masuk, diterima, dipercaya, lalu diguncang oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum matang. Belum sempat mengendap, sudah berubah menjadi perang batin.
Di titik itu saya pernah menganggap diri saya keliru. Terlalu banyak mikir. Terlalu sensitif. Terlalu ribet untuk ukuran anak kecil. Padahal kini saya mulai melihatnya dengan lebih jujur: itu bukan kesalahan, itu watak. Ada anak yang bertahan hidup dengan lupa, ada anak yang bertahan hidup dengan berpikir. Dan anak tipe kedua, mau tidak mau, memang selalu lebih lelah.
Ironisnya, sistem justru memberi saya stempel “cerdas”. Nilai pelajaran nyaris selalu sempurna. Guru bangga, orang tua tenang. Dari luar, semuanya tampak rapi. Tapi di dalam, batin saya berteriak lirih: rasanya seperti menulis kepalsuan. Saya berhasil, tapi tidak sepenuhnya jujur pada kegelisahan sendiri. Saya patuh, tapi tidak damai. Saya unggul, tapi tidak utuh.
Di sanalah saya mulai paham, ini bukan konflik iman. Ini konflik integritas batin. Kecerdasan saya diakui, tapi kegelisahan saya tidak pernah diwadahi. Tidak ada yang duduk di samping dan berkata, “Mari kita pikirkan bersama.” Yang ada hanya tuntutan untuk segera paham dan segera patuh.
Hari ini, setelah jarak waktu dan rapi-rapi batin yang panjang, saya bisa melihatnya dengan lebih adil. Metode yang dulu dipakai orang dewasa dalam hidup saya tidak sepenuhnya salah. Sangat mungkin itu satu-satunya cara yang mereka kenal—cara yang juga mereka terima saat kecil. Pesan itu lahir dari niat, bukan dari kebencian. Masalahnya, wadah saya terlalu sensitif untuk penyampaian yang keras dan final.
Maka kalimat yang kini terasa paling jujur bagi saya berbunyi begini:
bukan aku yang salah, dan bukan Tuhan yang salah. Aku hanya anak yang terlalu jujur berpikir di lingkungan yang lebih siap menerima kepatuhan daripada pertanyaan.
Perang batin itu mahal. Melelahkan. Menyisakan residu sampai dewasa. Tapi ia tidak sia-sia. Dari sana saya belajar membaca emosi orang lain, lebih hati-hati memilih bahasa, dan lebih waspada agar tidak mewariskan ketakutan yang sama. Saya belajar merapikan rak batin, bukan menguncinya rapat-rapat.
Anak yang hidupnya ringan mungkin tidak perlu melalui jalan ini. Tapi anak seperti saya, dengan segala ribet dan lelahnya, setidaknya punya satu peluang: menghentikan pola, bukan sekadar mengulangnya.
Saya masih lelah, jujur saja. Berpikir sejak kecil memang bukan anugerah yang gratis. Tapi hari ini ada satu hal yang berbeda. Saya tidak lagi memaksa diri untuk pura-pura utuh. Dan bagi saya, itu bukan kemenangan besar—hanya damai kecil yang sah, dan itu sudah lebih dari cukup.
0 komentar