Penglaris, Metafisik, dan Kejujuran pada Diri Sendiri

by - 10:50 AM

Saya pernah—atau setidaknya nyaris—bertemu dengan pikiran ini:

“Kalau usaha sudah dijalani sungguh-sungguh tapi tetap seret, apa salahnya minta bantuan penglaris?”

Pikiran itu tidak datang dari keserakahan. Ia datang dari lelah.
Dari hari-hari panjang membuka lapak, melayani orang dengan wajah ramah, menghitung stok, mengemas barang, lalu pulang dengan tubuh capek dan batin bertanya: kok segini-segini aja?

Di titik seperti itu, metafisik sering terasa menggoda.
Bukan karena saya bodoh, tapi karena saya manusia.
Manusia yang ingin sedikit lebih ringan jalannya.

Saya tahu betul, di sekitar saya ada banyak cerita.
Tentang usaha yang tiba-tiba ramai setelah “dibantu”.
Tentang ritual sederhana, air, doa, benda, atau orang ketiga yang katanya paham jalur tak kasatmata.
Semua dibungkus dengan satu kata yang terdengar halus: ikhtiar batin.

Di sini saya berhenti sebentar dan jujur pada diri sendiri.

Apa yang sebenarnya saya cari?

Kalau saya telusuri lebih dalam, yang saya inginkan bukan “laris”.
Yang saya inginkan adalah rasa aman.
Keyakinan bahwa semua capek ini ada pegangan tambahannya.
Bahwa kalau dunia nyata terasa kejam dan tak adil, ada pintu lain yang bisa diketuk.

Masalahnya, pintu itu sering tidak gratis.
Bukan soal uang semata, tapi soal posisi batin.

Saat saya menyerahkan urusan usaha pada pihak ketiga—siapapun namanya—tanpa sadar saya juga menyerahkan sebagian kendali diri.
Saya mulai bergantung pada sesuatu yang tidak bisa saya ukur, tidak bisa saya evaluasi, dan tidak bisa saya perbaiki kalau gagal.

Dan di situ, batin saya yang tadinya hanya lelah, pelan-pelan menjadi cemas.

Cemas kalau penglarisnya “habis”.
Cemas kalau ada yang lebih kuat.
Cemas kalau saya salah langkah, salah niat, salah bayar, salah percaya.

Padahal sebelumnya, lelah saya sederhana:
capek kerja, capek mikir, capek berharap.

Saya lalu bertanya lagi pada diri sendiri—tanpa drama spiritual:

Kalau memang ada unsur metafisik dalam hidup, bukankah ia sudah menyatu dalam hal-hal yang lebih dekat?

Dalam cara saya memperlakukan orang.
Dalam konsistensi membuka usaha meski sepi.
Dalam ritme istirahat yang saya jaga supaya tidak meledak di live.
Dalam kejujuran timbangan, bahasa, dan niat.

Saya tidak menertawakan orang yang memilih jalur penglaris.
Saya paham betul kenapa mereka sampai ke sana.
Titiknya sama: ingin bertahan hidup dengan waras.

Tapi untuk diri saya sendiri, saya memilih berhenti di satu kalimat ini:

Kalau batin saya masih berantakan, metafisik hanya akan jadi pelarian, bukan penopang.

Saya lebih tenang memperlakukan metafisik sebagai lapisan makna, bukan alat transaksi.
Sebagai pengingat untuk rendah hati, bukan jalan pintas.
Sebagai doa yang membenahi diri, bukan permintaan agar dunia tunduk.

Usaha saya mungkin tidak selalu ramai.
Omset bisa naik-turun.
Tapi selama saya masih merasa utuh saat menutup hari, saya tahu satu hal:

Saya tidak sedang dilariskan oleh sesuatu di luar diri,
saya sedang menjaga diri supaya tidak habis sebelum usaha saya selesai dijalani.

Dan buat saya, itu penglaris yang paling masuk akal.

You May Also Like

0 komentar