Kopi Instan untuk Orang yang Pernah Terlalu Dalam
Ada masa di hidup saya di mana segalanya harus dipahami dari hulu.
Tidak cukup sekadar minum kopi—saya ingin tahu tanah tempat ia tumbuh, cuaca yang membentuk rasanya, cara ia dipetik, difermentasi, disangrai, hingga akhirnya layak diseduh.
Saya belajar bukan karena sok tahu.
Saya belajar karena batin saya tidak memberi ruang untuk ketidaktahuan.
Ketidaktahuan terasa berbahaya.
Bahkan sebelum kopi itu sampai ke meja, pikiran saya sudah berkelana:
bagaimana jika hama datang,
bagaimana jika pembalakan liar merusak segalanya,
bagaimana jika semua proses itu sia-sia.
Belakangan saya mengerti—
itu bukan obsesif, itu waspada.
Itu cara orang yang pernah kehilangan pijakan menjaga dirinya tetap berdiri.
Hari ini, sesuatu berubah.
Saya duduk dengan secangkir kopi kemasan instan di tangan.
Saya tahu betul, kopi ini bukan yang terbaik.
Saya tahu betul, prosesnya disederhanakan, diringkas, dipotong sana-sini.
Dan anehnya…
saya tidak terganggu.
Bukan karena saya lupa bagaimana kopi seharusnya diperlakukan.
Justru karena saya tahu persis.
Untuk pertama kalinya, saya tidak minum kopi sambil berjaga.
Saya meminumnya sambil hadir.
Saya tidak lagi belajar untuk mengantisipasi bencana.
Bukan karena bencana tak mungkin datang,
tapi karena hari ini saya tidak sedang diserang.
Kopi ini pahit.
Dan pahitnya jujur.
Ia tidak berusaha membuktikan apa-apa.
Tidak menjelaskan asal-usulnya.
Tidak meminta dimengerti.
Dan di situ saya menemukan diri saya sendiri.
Saya sadar, kedewasaan bukan ketika kita berhenti tahu,
melainkan ketika pengetahuan berhenti menjadi alarm.
Jika besok hama datang, saya tahu harus apa.
Jika pohon tumbang, saya tahu bagaimana bersikap.
Tapi hari ini,
biarkan saya meneguk kopi saya tanpa rasa curiga.
Pahitnya tetap ada.
Hanya saja, ia tidak lagi menyakitkan.
0 komentar