Hantu Tidak Salah Apa-Apa, Saya yang Kelelahan

by - 3:01 PM

Saya dibesarkan dengan satu kalimat sakti yang bekerja lebih ampuh daripada doa:

“Jangan nangis, nanti ada hantu.”

Kalimat ini multifungsi. Bisa menghentikan tangis, meredam marah, sekaligus menciptakan industri ketakutan jangka panjang. Hantunya pun tidak sembarangan. Yang hits di zamannya. Tante kunti dengan rambut tak terurus dan om pocong yang hidupnya jelas tidak praktis. Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa emosi adalah pintu gerbang ke dunia gaib, dan gelap adalah undangan resmi.

Belakangan, setelah kepala agak dewasa dan batin mulai diajak ngobrol, saya sadar: saya bukan takut hantu. Saya takut suasana. Takut gelap. Takut sendirian. Takut kondisi di mana tidak ada orang dewasa yang bilang, “nggak apa-apa.”

Hantu cuma kendaraan. Yang menumpang di atasnya adalah rasa tidak aman.

Pola depresan ini—yang menekan emosi lalu menggantinya dengan ancaman simbolik—saya putuskan tidak diwariskan ke anak. Bukan karena saya sok bijak, tapi karena capek juga hidup ditemani kunti tiap malam. Anak saya tetap tahu hantu dari tontonan. Tapi alih-alih takut, ia justru mengajukan pertanyaan logis yang meruntuhkan citra horor perhantuan.

“Tante kunti ngapain sih di pohon terus, Yah? Nggak takut digigit semut?”
“Pocong kalau masuk komplek kita tap kartu aksesnya gimana? Tangannya kan diikat.”
“Lewat portal rukuk apa ngesot?”

Di titik itu saya sadar, saya telah melakukan dosa besar terhadap civitas perhantuan. Saya membuat mereka tidak lagi serem, hanya tidak efisien.

Maafkan aku ya, hantu.

Yang menarik, ketakutan itu tidak sepenuhnya hilang. Ia hanya berganti bentuk. Ke tempat yang katanya angker, saya biasa saja. Tidak merinding. Tapi di rumah sendiri, lampu temaram, sendirian, kadang muncul rasa: ih, kok kayak ada yang merhatiin.

Padahal terang. Padahal aman.

Ternyata yang muncul bukan hantu, tapi memori tubuh. Tubuh saya ingat betul kombinasi lama: sunyi, gelap, emosi ditekan, tidak ditemani. Pikiran sudah paham, tapi tubuh ini konservatif. Ia tidak mudah percaya bahwa keadaan sudah berubah.

Dan makin jelas polanya saat saya capek. Saat fisik lelah, gula darah turun, hidup terasa berat, rem rasional melemah. Otak masuk mode siaga. Ruang kosong terasa berisi. Sunyi terasa mencurigakan. Bukan karena ada sesuatu, tapi karena sistem penjaga hidup belum tidur.

Di titik itu, saya tidak melawan. Tidak membaca ayat untuk mengusir makhluk halus. Saya nyalakan murotal bukan sebagai benteng spiritual, tapi sebagai teman. Biar ada suara. Biar tubuh tahu: kamu tidak sendirian.

Ini bukan mistik. Ini fisiologis. Otak manusia tidak suka kesunyian total, apalagi saat capek. Ia akan mengisi kekosongan dengan apa saja. Termasuk rasa “diperhatikan”. Bukan halusinasi. Hanya kewaspadaan berlebih yang belum dikabari bahwa situasi aman.

Yang menarik, saya sadar semua ini. Tapi sadar tidak selalu berarti bisa langsung mengatur. Kesadaran bukan saklar. Regulasi saraf itu proses. Tubuh perlu sinyal aman yang diulang-ulang, bukan ceramah logika.

Sekarang saya mengerti. Dulu gelap berarti sendirian. Sekarang tidak. Tapi tubuh saya masih ingat. Dan tugas saya bukan menertawakan ingatan itu, melainkan menemaninya sampai ia tenang.

Dan ya, mungkin faktor kegantengan juga berpengaruh. Makhluk halus pun kalau mau lewat, mikir dua kali:
“Ah jangan, ini orang lagi reflektif.”

Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:
Saat lelah, tubuh saya lebih waspada dari biasanya. Bukan karena ada sesuatu, tapi karena penjaga hidup belum istirahat. Maka saya tidak melawan. Saya menemani.

Hantu tidak salah apa-apa.
Yang butuh istirahat, ya saya.

You May Also Like

0 komentar