Manifesto Anti-Hantu Wastafel (dan Keputusan Resmi untuk Tidak Takut Lagi)
Saya akhirnya sampai pada satu keputusan penting dalam hidup:
jeda panjang dari urusan perhantuan.
Bukan karena kalah. Tapi capek.
Capek merasa dikejar-kejar makhluk yang bahkan tidak jelas jobdesc-nya.
Aneh memang, setelah dipikir-pikir.
Di Jepang, hantunya cantik. Rambut panjang, tatapan sendu, aura melankolis. Kalau ketemu, rasanya ingin diajak ngobrol: “Kamu meninggalnya kenapa? Capek ya?” Lalu ngopi. Selesai.
Di Cina, vampir lompat-lompat pakai topi. Lucu. Teatrikal. Kaya cosplay yang salah jam tampil.
Lah, di tempat saya tinggal?
Hantunya multitasking.
Ada di pohon, ada di got, ada di selokan, ada di dapur. Bahkan di washtafel.
Sampai-sampai urusan buang air panas pun harus mikir metafisika.
“Jangan buang air panas ke washtafel, nanti hantunya marah.”
Padahal, mari kita jujur sebagai manusia yang pernah melihat pipa:
bilang aja pipanya bisa peot.
Selesai.
Fisika.
Tidak perlu melibatkan dunia gaib yang jelas-jelas overworked.
Tapi tidak.
Segala sesuatu harus lewat jalur hantu.
Buang air panas? Hantu.
Gelap? Hantu.
Sunyi? Hantu.
Salah hidup? Hantu juga.
Sampai satu hari, saya capek.
Benar-benar capek.
Dengan nada tinggi, emosi yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun, dan washtafel sebagai saksi sejarah, saya banting itu wastafel sambil teriak:
“MANA SIH MAAAK HANTUNYA?!
Ngapain juga dia ngedekem di pipa washtafel?!
BEGO BANGET!”
Sunyi.
Ibu saya terdiam.
Bukan marah.
Bukan tersinggung.
Diam yang aneh—seperti orang yang baru sadar:
“iya juga ya…”
Dan di titik itu saya sadar:
yang selama ini menakutkan bukan hantu.
Tapi cara takut itu diwariskan tanpa penjelasan.
Hantu dijadikan solusi instan untuk menghentikan pertanyaan.
Untuk membungkam emosi.
Untuk menghindari dialog.
Padahal saya tidak butuh itu.
Saya cuma butuh alasan yang masuk akal.
Sekarang saya tahu:
yang bikin merinding itu bukan makhluk halus, tapi gelap + sunyi + capek + sendirian.
Sistem saraf saya yang lebay, bukan dunia gaib yang aktif patroli.
Makanya sekarang kalau capek dan sendirian, saya nyalakan murotal.
Bukan buat ngusir hantu.
Tapi biar ada teman.
Karena ternyata, yang saya cari dari dulu itu bukan perlindungan gaib—
tapi kehadiran.
Jadi ya sudah.
Masalah perhantuan saya anggap selesai.
Saya pamit baik-baik.
Kalau memang ada hantu yang merasa tersinggung, saya mohon maaf.
Tapi tolong juga refleksi diri.
Masa iya, dari semua tempat di dunia,
kamu pilih tinggal di pipa washtafel.
Saya jeda dulu.
Cape.
Merasa dikejar hantu kurang ajar yang bahkan tidak bisa menjelaskan kenapa dia marah. 😌👻
0 komentar