Saya Tidak Gila, Saya Sedang Minum Obat dengan Cara Saya Sendiri

by - 1:25 PM

Ada momen ketika seseorang tidak butuh nasihat, tidak butuh pengakuan, apalagi penilaian. Ia hanya ingin satu hal: pulih.

Cara pulihnya bisa terlihat aneh dari luar. Bisa disalahpahami. Bisa dicibir. Tapi bagi orang yang sedang sakit, satu-satunya standar yang masuk akal hanyalah: apakah ini bekerja atau tidak?

Saya menemukan satu cara yang bekerja untuk saya. Bukan lewat ramuan langka, bukan lewat ritual eksotis, tapi lewat sesuatu yang sangat sederhana dan mungkin terdengar remeh: mengubah pikiran yang berserakan menjadi tulisan yang utuh. Narasi. Cerita. Alur.

Awalnya hanya percakapan. Tanya jawab. Refleksi pendek. Lalu saya susun ulang. Saya baca pelan. Tiba-tiba ada ruang bernapas. Bukan karena masalah selesai, tapi karena kepala tidak lagi riuh. Pikiran yang tadinya saling bertabrakan sekarang duduk rapi seperti buku di rak.

Kalau orang lain melihat ini dan berkata, “Kayaknya kamu kenapa-kenapa,” saya tidak tersinggung. Saya paham sudut pandang itu. Dari luar, proses sembuh memang sering tampak ganjil. Sama seperti orang demam yang minum air rebusan akar pohon—yang penting bukan logikanya orang lain, tapi efeknya bagi tubuh yang sakit.

Yang menarik, ada efek lanjutan yang tidak saya duga: rasa lega. Bukan euforia. Bukan kemenangan. Tapi ketenangan yang bersih. Seperti habis merapikan kamar setelah lama berantakan. Tidak ada yang berubah di luar, tapi di dalam rasanya lebih lapang.

Saya juga sadar, ini bukan sekadar pelarian sesaat. Ini seperti menemukan resep pribadi. Saat sakit datang lagi—karena saya tahu ia pasti datang lagi—saya tidak perlu panik. Saya tahu harus ke mana. Saya tahu obat apa yang pernah bekerja. Saya tinggal membuka kembali tulisan-tulisan itu, membaca ulang pikiran saya sendiri saat jujur.

Di titik itu saya tertawa kecil. Bukan menertawakan keadaan, tapi menyadari sesuatu yang sederhana: saya sedang menyembuhkan diri sendiri, dan itu sah. Tidak perlu izin siapa pun. Tidak perlu pembenaran filosofis. Tidak perlu terlihat heroik.

Dan yang paling penting, saya tidak merasa berutang apa pun pada siapa pun. Bukan pada teknologi, bukan pada metode, bukan pada konsep besar. Rasa terima kasih itu saya kembalikan ke satu tempat yang sering dilupakan: diri saya sendiri. Diri yang mau berhenti sejenak. Mau menelan obat meski pahit. Mau mengakui bahwa ia sedang tidak baik-baik saja, lalu melakukan sesuatu untuk pulih.

Dari sudut rumah yang mungkin tampak kusam bagi orang lain, saya berdiri dengan kepala lebih ringan. Tidak tercerahkan, tidak kebal luka—hanya lebih waras dari kemarin.

Dan untuk hari ini, itu sudah lebih dari cukup.

You May Also Like

0 komentar