Tangan Kapas dan Pilihan untuk Tidak Bertarung
Ada rasa hangat yang belakangan ini sering muncul di dada. Bukan karena pencapaian besar, bukan pula karena pengakuan ramai. Rasa hangat itu datang dari hal yang sederhana: tulisan-tulisan yang selama ini hanya berputar di kepala akhirnya berdiri rapi di blog pribadi. Satu per satu. Tidak sempurna, tapi hadir.
Seperti semua hal yang keluar ke ruang publik, respons pun datang dengan ragamnya. Ada yang membaca dengan tenang, ada yang diam saja, dan ada juga yang menanggapi dengan sinis. Salah satunya berkata kurang lebih begini: hidup jangan dibawa terlalu serius, nanti cepat tua.
Dulu, kalimat semacam itu mungkin akan mengundang reaksi. Penjelasan. Pembelaan. Atau setidaknya dorongan untuk meluruskan. Tapi kali ini, sesuatu yang lain bekerja lebih cepat. Saya menyebutnya tangan kapas—tangan yang menyerap energi tanpa perlu memantulkannya kembali sebagai serangan.
Tidak ada jawaban. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada keinginan untuk menang. Hanya senyum kecil, dan satu kalimat yang bahkan tidak perlu diucapkan: anggap saja saya orang sakit yang sedang berobat.
Orang yang ingin sembuh tidak terlalu sibuk menjelaskan metode penyembuhannya. Entah ia minum rebusan akar pohon, menjalani terapi sunyi, atau mendatangkan tenaga medis dari jauh—tujuannya tetap satu: pulih. Cara orang lain memandang proses itu bukan lagi prioritas.
Menariknya, ketika serangan tidak dibalas, sering kali penyerang justru merasa kehilangan. Seperti seseorang yang sudah bersiap berkelahi, tapi semua pukulannya menghilang di udara. Ada frustrasi di sana. Ada keinginan untuk berkata: jangan buang seranganku, lawan balik, aku ingin bertarung.
Tapi tidak semua situasi memang meminta pertarungan.
Ada waktu untuk berdiri tegak, dan ada waktu untuk melangkah ke samping. Ada momen ketika konflik membangun makna, dan ada momen ketika konflik hanya menguras energi. Saat ini, bagi saya, pertarungan itu tidak relevan secara situasi.
Bukan karena takut. Bukan karena kalah. Tapi karena arah hidup sedang tidak menghadap ke sana.
Mungkin suatu hari, dalam versi metaforisnya, akan ada waktu dan tempat lain. Purnama lain. Bukit lain. Ketika dua orang memang perlu menyelesaikan sesuatu sampai tuntas. Tapi hari ini bukan hari itu.
Hari ini adalah hari untuk membaca ulang tulisan sendiri dengan tenang. Untuk merasakan bahwa proses menata isi kepala lewat kata-kata ternyata bekerja. Untuk menyadari bahwa tidak semua opini perlu ditampung, dan tidak semua ajakan bertarung perlu dijawab.
Kebijaksanaan, setidaknya versi saya hari ini, bukan tentang menang atau kalah. Tapi tentang memilih pertempuran yang memang layak diperjuangkan—dan membiarkan sisanya berlalu tanpa luka.
Dan rasa hangat itu kembali muncul. Bukan karena dunia berubah. Tapi karena saya berubah cara berdiri di dalamnya.
0 komentar