Asap yang Lewat, Tembok yang Tinggal
Saya tinggal di sebuah komplek yang secara fisik rapi, tertata, dan—seperti kebanyakan cluster—dibungkus dengan pagar beton tinggi. One gate system, demi keamanan, katanya. Di sisi itu saya cukup setuju. Ada kebutuhan untuk merasa aman, teratur, dan terlindungi. Seperlunya saja.
Di balik pagar beton itu, ada warga asli. Mayoritas petani. Hidup dengan ritme yang berbeda, fasilitas yang berbeda, dan tentu saja sistem pengelolaan sampah yang berbeda.
Sesekali, asap pembakaran sampah dari kampung masuk ke komplek kami, terbawa angin. Tidak lama. Biasanya kurang dari dua puluh menit, lalu hilang. Saya menghirupnya, agak terganggu, tapi juga langsung paham: kemungkinan mereka tidak punya layanan angkut sampah rutin seperti di cluster kami. Mereka menyelesaikan urusan dengan cara yang mereka bisa.
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Di grup warga, muncul respons yang cukup agresif. Nada menuntut. Ada yang merasa hak atas ruang udara bersihnya dilanggar. Asap dianggap sebagai bentuk ketidakadilan. Gangguan kesehatan. Ancaman. Sesuatu yang harus segera “ditertibkan”.
Di titik itu, saya berhenti dan mencoba jujur pada diri sendiri:
saya paham kegelisahan mereka, tapi saya juga paham keterbatasan di seberang pagar.
Ini dilema yang tidak hitam-putih.
Di satu sisi, kesehatan adalah urusan serius. Asap pembakaran memang tidak ideal, dan kalau dibiarkan rutin, bisa menjadi masalah nyata. Kekhawatiran itu valid.
Di sisi lain, menuntut dengan nada tinggi pada warga yang bahkan tidak punya sistem alternatif, rasanya seperti memprotes hujan ke langit yang tidak kita bangun.
Saya bertanya dalam hati:
apakah ini soal udara, atau soal posisi?
Karena pagar beton itu bukan hanya memisahkan wilayah, tapi juga cara pandang. Di dalam pagar, kita terbiasa dengan sistem: sampah diambil, masalah dikelola, gangguan diminimalkan. Di luar pagar, orang menyiasati hidup dengan alat yang tersedia. Membakar sampah mungkin bukan pilihan terbaik, tapi sering kali itu satu-satunya pilihan.
Yang membuat saya gelisah bukan asapnya—karena ia lewat—
melainkan reaksi kita yang menetap.
Nada agresif di grup terasa seperti lupa bahwa sebelum ada cluster, ada kampung. Sebelum ada sistem, ada kebiasaan. Dan sebelum ada tuntutan, seharusnya ada dialog.
Saya juga tidak punya kesimpulan utuh. Tapi mungkin justru di situ letaknya:
tidak semua hal harus ditutup dengan jawaban tegas.
Yang bisa saya simpulkan untuk diri sendiri sementara ini adalah begini:
kalau asapnya sementara, mungkin respons kita tidak perlu permanen.
kalau masalahnya struktural, mungkin solusinya tidak bisa individual.
dan kalau kita hidup berdampingan, barangkali empati perlu lebih cepat muncul daripada kemarahan.
Pagar beton boleh tinggi, demi keamanan.
Tapi batin, semoga tidak ikut dibeton.
Karena bisa jadi, yang paling mengganggu bukan asap yang lewat,
melainkan jarak batin yang kita biarkan tinggal.
0 komentar