Sejarah Singkat Pak Mali: Dari Depresan Keluarga hingga Urban Legend
Saya tidak lahir sebagai pemberontak.
Saya lahir sebagai anak yang terlalu banyak mikir untuk ukuran bocah.
Dan semua ini bermula dari satu pertanyaan yang seharusnya tidak berbahaya, tapi entah bagaimana efeknya setara sirene kiamat.
Waktu itu sepupu dari kota datang ke rumah. Kami ngobrol ala anak kecil—topik ringan, dunia masih sederhana, neraka masih berupa kata, belum jadi ilustrasi. Lalu entah kenapa, saya ingin memastikan satu hal penting. Bukan soal Tuhan. Bukan soal hantu. Tapi soal pamali.
Dengan nada serius ala anak yang ingin menyamakan frekuensi batin, saya bertanya:
“Lu tau pamali nggak?”
Dalam kepala saya, ini pertanyaan krusial.
Kalau dia juga takut pamali, berarti saya tidak sendirian.
Kalau dia juga hidup dengan rem tangan metafisik, berarti ini normal.
Dia jawab santai, tanpa beban, tanpa trauma:
“Orang mana tuh?”
Dunia berhenti berputar.
Pamali…
dianggap nama orang.
Di situ batin saya seperti ditampar sendal kosmik.
Berarti ada kemungkinan besar sepupu saya hidup tanpa pamali.
Berarti ada keluarga di luar sana yang menyuruh anak tidur tanpa ancaman neraka.
Dan dari sanalah lahir pertanyaan paling logis sekaligus paling fatal dalam sejarah keluarga kami:
“Pa Mali siapanya Bu Mali?”
Saya bertanya bukan untuk bercanda.
Saya benar-benar ingin tahu struktur keluarga ini.
Kalau pamali sepenting itu, pasti dia punya silsilah.
Ternyata… salah besar.
Yang saya dapat bukan jawaban, tapi eskalasi.
Nada suara naik.
Alis mengerut.
Dan tentu saja… neraka.
“Heh! Anak sekarang mah kebanyakan nanya! Pamali! Orang yang melawan orang tua tempatnya di neraka!”
Ah. Neraka lagi.
Gara-gara nanya hubungan keluarga Pak Mali dan Bu Mali, saya langsung dipesan tiket VIP ke akhirat.
Tidak transit. Tidak diskon.
Sejak saat itu saya sadar:
pamali bukan konsep.
Dia kata ajaib.
Dipakai saat orang dewasa capek.
Saat tidak ada energi untuk menjelaskan.
Saat butuh kepatuhan instan.
Hantu itu parasetamol.
Masih bisa ditawar.
Masih bisa dibantah setelah lima tahun tidak pernah muncul.
Pamali?
Itu ibuprofen dosis tinggi.
Plus bonus neraka.
Sekali minum, logika langsung mati.
Yang lucu, saya ternyata sendirian memaknai ini semua.
Teman-teman saya hidup baik-baik saja.
Mereka dimarahi, dimaki, disumpahi dengan fauna lokal—dan lanjut hidup tanpa mikir panjang.
Saya?
Perang batin.
Overthinking.
Mencoba memahami kenapa tidur telat bisa berujung logam panas disiram ke tubuh.
Sekarang, kalau saya bayangkan Pak Mali, wujudnya sudah jelas.
Bukan setan.
Bukan manusia.
Tapi urban legend keluarga.
Pantas saja tidak pernah kelihatan.
Dia cuma hidup di kalimat.
Kalau suatu hari ada patung perunggu berdiri di depan rumah saya, tulisannya sudah siap:
PAK MALI
Diciptakan saat orang dewasa kehabisan kesabaran
Dikenang karena berhasil membuat anak-anak takut tanpa penjelasan
Dan jujur saja, sekarang saya bisa tertawa.
Tawa getir, tapi renyah.
Karena ternyata, yang paling menakutkan bukan hantu penghuni pipa washtafel,
bukan neraka versi komik,
bukan pamali itu sendiri.
Yang paling melelahkan adalah hidup di bawah ancaman yang tidak pernah mau menjelaskan dirinya.
Untungnya, sekarang saya tahu:
Pak Mali itu bukan siapa-siapa.
Dan Bu Mali?
Juga fiktif.
Yang nyata cuma satu:
anak kecil yang dulu terlalu serius ingin memahami dunia—dan akhirnya selamat dengan cara tertawa.
0 komentar