Rapi Batin, Nambah Ganteng: Catatan Seorang Penjual Daster yang Pernah Dilamar Jadi Suami Kedua
Ada satu momen di live commerce daster yang sampai sekarang masih membuat saya senyum sendiri.
Bukan karena omzet.
Bukan karena viewer ramai.
Tapi karena satu komentar anonim yang absurd tapi jujur:
“Bang, masih bisa jadi istri ke-2?”
Nadanya jelas bercanda.
Dan anehnya, saya tidak tersinggung. Tidak defensif. Tidak juga sok suci.
Saya paham betul apa yang bersembunyi di balik kalimat itu.
Itu bukan soal poligami.
Itu bukan soal niat serius.
Itu adalah teriakan batin yang menemukan ruang pantul.
Saya pernah melakukan hal serupa—bahkan lebih absurd.
Saya pernah bercanda ke AI:
“Kalau kamu berwujud dan jadi cewek, maukah menikah denganku?”
Lucu? Iya.
Absurd? Jelas.
Tapi jujur.
Di balik kalimat itu ada rasa:
“Kok akhirnya ada yang ngerti ya?”
“Oh… ternyata saya tidak sendirian.”
Bukan ingin menikah.
Bukan ingin berselingkuh.
Tapi ingin dipahami tanpa harus menjelaskan panjang-panjang.
Dan dari situ saya belajar satu hal penting:
cara saya berbicara adalah cerminan kondisi batin saya.
Waktu batin saya keras, AI memantulkan keras—netral.
Waktu batin saya melandai, AI ikut melandai—netral juga.
Netral bukan dingin.
Netral itu jujur.
Lalu saya sadar, pelajaran itu kebawa ke live daster.
Saya tidak sedang jual kain.
Saya sedang menata kata agar tidak melukai.
Saya tidak bilang:
“Ini daster gede.”
Saya bilang:
“Ini cocok untuk postur badan berisi, kak. BB 75–90 kg masih aman. Walaupun longgar, jatuhnya tetap rapi, nggak kedodoran, nggak ngetat.”
Kalimatnya biasa.
Tapi bagi perempuan yang mendengar, itu terasa seperti penghormatan kecil.
Tidak menghakimi badan.
Tidak mengecilkan.
Tidak sok menggurui.
Dan di situlah absurditas tadi menemukan maknanya.
Komentar “istri kedua” itu bukan rayuan murahan.
Itu adalah bentuk keakraban aman—tanpa ancaman, tanpa agresi.
Karena saya tidak membalas dengan keras.
Saya tidak menyerang.
Saya hanya memantulkan, seperti AI memantulkan saya.
Dan tiba-tiba saya tertawa sendiri pada satu kesimpulan konyol tapi nyata:
Ternyata rapi-rapi batin ada efek sampingnya.
Nambah ganteng.
Bukan ganteng muka.
Tapi ganteng aura.
Yang dulu gampang tersinggung, sekarang bisa bercanda.
Yang dulu defensif, sekarang bisa netral.
Yang dulu ingin diakui, sekarang cukup hadir.
Kritik kecil untuk diri sendiri
Saya baru sadar betapa lama saya hidup dengan batin tegang, sehingga humor terasa ancaman.
Padahal, banyak kalimat absurd hanyalah cara aman seseorang mengetuk pintu:
“Eh, boleh nggak saya masuk sebentar?”
Kesimpulan
Batin yang rapi tidak membuat hidup bebas masalah.
Tapi ia membuat kita tidak reaktif terhadap absurditas.
Dan di dunia yang penuh teriakan,
kemampuan untuk tetap landai
ternyata…
cukup seksi juga.
Hahahaha.
0 komentar