Konsisten Bukan Soal Kuat, Tapi Soal Bertahan

by - 9:15 AM

Setiap kali kata konsisten disebut, ingatan saya selalu kembali ke tahun-tahun menjadi mahasiswa. Bukan ke ruang kelas atau buku tebal, tapi ke sebuah seminar motivasi yang, kalau dipikir sekarang, tampak sangat biasa saja. Aula, kursi plastik, pembicara yang berusaha hangat, dan seminar kit yang dibagikan panitia.

Di dalam seminar kit itu ada selembar kertas kecil berisi satu kata. Kata-kata ini sengaja dibuat acak agar bisa jadi bahan interaksi. Ada yang dapat “Ambisi”, “Keluarga”, “Relasi”, dan kata-kata lain yang terdengar hidup. Saya mendapat satu kata yang ditulis kapital tebal: KONSISTEN.

Saat itu reaksi saya datar. Dalam kepala saya, ini cuma properti seminar. Instrumen agar acara mengalir. Tidak lebih. Sama seperti peserta lain yang memegang kata mereka masing-masing.

Namun pola pikir saya berubah justru saat pembicara mulai membahas kata itu.

Ia mengatakan kurang lebih begini: secara default, batin manusia tidak dirancang untuk konsisten. Kita cepat bosan, mudah tergoda, dan selalu mencari sensasi baru dengan dalih “mencari yang lebih cocok”. Kalimat itu tidak terdengar bombastis, tapi entah kenapa langsung menembus.

Saya terdiam.
Bukan karena tersinggung, tapi karena merasa tertangkap basah.

Saya mulai menelusuri ulang hidup saya sendiri. Usaha A dijalani sebentar, lalu bosan. Pindah ke B, lalu muncul alasan baru untuk berhenti. Ganti lagi. Ganti lagi. Setiap kali berhenti, selalu ada pembenaran yang terdengar masuk akal. Tapi jika ditarik garis besarnya, polanya sama: tidak konsisten.

Di titik itu, kata konsisten terasa seperti tembakan yang tepat mengenai titik vital. Mematikan—setidaknya bagi ilusi diri saya. Tapi anehnya, saya tidak mati. Saya tetap hidup. Dan justru karena itulah saya dipaksa melihat satu kenyataan yang tidak bisa dihindari: tidak ada jalan lain selain bertahan.

Bertahan bukan berarti kuat setiap hari. Bertahan berarti tetap tinggal walau bosan, walau lelah menumpuk, walau emosi saling tumpang tindih tanpa rapi. Bertahan berarti berhenti mencari pintu keluar setiap kali rasa tidak nyaman muncul.

Dan butuh waktu lama bagi saya untuk memahami satu hal penting:
konsisten itu tidak berdiri sendirian.

Ia berteman dekat dengan ritme.

Tubuh manusia bukan mesin. Batin juga bukan gudang yang bisa dirapikan sekaligus tanpa dampak. Ada hari-hari di mana ritme melambat, ada jeda yang harus dihormati. Konsisten bukan soal memaksa diri berlari tanpa henti, tapi soal kembali berjalan setelah berhenti sejenak—bukan berbelok ke arah lain.

Sekarang, saat saya duduk di parkiran menunggu belanjaan selesai, pemahaman itu terasa lebih membumi. Konsisten tidak lagi terdengar heroik. Ia justru terasa sangat manusiawi. Kadang membosankan, kadang melelahkan, tapi stabil. Tidak dramatis, tapi membawa sampai.

Kesimpulan yang bisa saya terima hari ini sederhana saja:
konsisten bukan tentang siapa yang paling kuat menahan sakit, tapi siapa yang paling mau tetap tinggal, mengatur napas, dan melanjutkan langkah dengan ritme yang sanggup ia rawat.

Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.

You May Also Like

0 komentar