Ketika Belas Kasih Mencari Panggung

by - 3:19 AM

Saya tinggal di lingkungan yang cukup unik. Banyak orang baik, ramah, dan—ini yang menonjol—pecinta hewan. Terutama pecinta kucing. Sampai ada grupnya, ada komunitasnya, ada diskusi rutinnya. Saya paham, cinta pada makhluk hidup adalah hal yang baik. Saya sendiri suka kucing. Tapi mungkin dengan cara yang berbeda.

Suatu hari ada kucing liar mati tertabrak. Kejadiannya sederhana dan tragis, seperti banyak kejadian lain di jalanan: seekor kucing, sebuah kendaraan, lalu selesai. Satpam komplek menguburkannya dengan layak. Bagi saya, di titik itu urusannya sudah selesai. Ada kematian, ada yang mengurus, ada penutup.

Ternyata tidak.

Di grup komplek, diskusi justru memanas. Mayoritas pecinta kucing sepakat: CCTV harus dicek. Siapa yang menabrak harus ditemukan. Bukan untuk dimintai pertanggungjawaban hukum, tapi untuk “dipermalukan”. Biar malu, katanya. Biar jera. Biar tahu rasa.

Di situ saya berhenti dan bertanya pada diri sendiri:
ini tentang kucing, atau tentang kemarahan yang sedang mencari wadah?

Saya tidak anti kucing. Saya sering membawa makanan kering dan memberikannya ke kucing-kucing liar yang saya temui. Tanpa nama. Tanpa ikatan. Tanpa merasa memiliki. Saya tidak membawa mereka pulang, tidak merawat di dalam rumah, tidak membersihkan kotorannya, tidak mengatur hidup saya sepenuhnya untuk mereka. Saya membantu secukupnya, lalu pergi.

Dan mungkin di situlah perbedaannya.

Saya melihat sebagian cat lover memperlakukan kucing jauh melebihi manusia. Emosi mereka lebih tersulut oleh kematian seekor kucing liar dibanding ketidakadilan yang menimpa tetangganya sendiri. Mereka rela menjadi pelayan penuh waktu bagi hewan—yang, jujur saja, bahkan tidak meminta itu—sementara pada manusia, empatinya bersyarat.

Saya tidak mengatakan itu salah. Tapi saya merasa ada yang bergeser.

Belas kasih yang sehat biasanya sunyi. Ia bekerja tanpa perlu saksi.
Belas kasih yang ingin diakui sering kali berisik, butuh panggung, dan mencari kambing hitam.

Mencari siapa yang menabrak kucing itu tidak akan menghidupkannya kembali. Tidak akan mengurangi satu pun penderitaan yang sudah terjadi. Yang ada, hanya memindahkan duka menjadi amarah kolektif, lalu menyalurkannya ke satu orang agar banyak orang merasa “lebih bermoral”.

Saya tertawa kecil—ketawa jahat, mungkin—saat menyadari absurditasnya. Kita marah pada seseorang yang tidak berhenti menolong kucing liar, tapi dengan tenang membiarkan sistem yang tiap hari melindas manusia kecil tanpa pernah dicari CCTV-nya.

Di titik ini saya menarik kesimpulan sederhana untuk diri sendiri:
saya tetap suka kucing, tapi saya tidak ingin kehilangan proporsi.
Saya ingin tetap melihat manusia sebagai manusia, hewan sebagai hewan, dan emosi sebagai sesuatu yang perlu ditata, bukan dipamerkan.

Karena jika belas kasih berubah menjadi alat untuk merasa paling benar, mungkin yang sedang kita rawat bukan kucing—
melainkan ego kita sendiri.

You May Also Like

0 komentar