Menyapa Terlalu Rendah, atau Terlalu Manusia?
Istri saya pernah cerita ke ibunya, dengan nada setengah heran, setengah mengeluh. Katanya, si aa—saya—kalau makan di restoran, bukannya fokus ke meja sendiri, malah sering ngobrol. Bukan ngobrol dengan tamu lain, tapi dengan tukang parkir, pelayan yang kebetulan tidak sibuk, tukang taman, satpam. Dengan semua lapisan yang menurutnya perlu dijaga jaraknya.
Bukan soal wibawa, katanya. Tapi soal kebiasaan. Ia tidak terbiasa melihat suaminya “serendah itu” dalam bersikap di ruang publik.
Saya mendengarnya tanpa defensif. Karena bagi saya, penjelasannya juga sederhana:
saya hanya menganggap mereka manusia.
Tidak lebih. Tidak kurang.
Saya tidak sedang membangun citra ramah, apalagi sok merakyat. Saya juga tidak merasa sedang berbuat baik. Saya menyapa karena itu refleks. Duduk bersebelahan dengan pelayan yang sedang istirahat sejenak, ya ngobrol ringan. Ketemu tukang parkir, ya tanya kabar. Tidak ada maksud melampaui batas. Tidak ada niat melanggar hierarki sosial. Saya bahkan sering lupa bahwa dalam banyak kepala, hierarki itu masih penting.
Efeknya kadang muncul tanpa diminta.
Seorang tukang parkir restoran, misalnya, menolak uang parkir lima ribu rupiah yang saya sodorkan. Bukan dengan gesture merendahkan, tapi sambil tersenyum dan bilang, “nggak usah, pak.” Ia lebih senang ngobrol sebentar. Akhirnya saya sodorkan air mineral saja. Ia menerimanya dengan wajah ringan, bukan wajah berutang.
Di situ saya sadar: yang terjadi bukan transaksi. Tapi perjumpaan.
Bagi sebagian orang, menjaga jarak adalah cara mempertahankan wibawa. Ada kekhawatiran: kalau terlalu akrab, nanti diremehkan. Kalau terlalu membumi, nanti kehilangan posisi. Kekhawatiran itu tidak salah. Ia lahir dari pengalaman, dari sistem, dari cara dunia bekerja.
Tapi saya dibentuk dari lapisan bawah. Dari ruang-ruang di mana jarak justru membuat hidup terasa dingin. Dari situ saya belajar: yang sering hilang bukan hormat, tapi pengakuan. Dan pengakuan paling dasar adalah menyapa tanpa motif.
Kritik yang bisa saya berikan ke diri sendiri pun ada. Bisa jadi, bagi sebagian orang, sikap saya terlihat tidak tahu tempat. Tidak semua ruang aman untuk obrolan ringan. Tidak semua relasi perlu didekatkan. Ada batas yang tetap harus dijaga.
Namun saya juga belajar satu hal yang tidak bisa saya sangkal:
jarak sosial sering kali bukan soal aturan, tapi kebiasaan yang diwariskan tanpa pernah diuji ulang.
Kesimpulan saya sederhana dan personal.
Saya tidak ingin hidup di dunia di mana saya harus terus mengingat siapa pantas disapa dan siapa cukup dilihat dari jauh. Selama masih bisa menyebut seseorang sebagai manusia, rasanya tidak berlebihan untuk bertukar senyum, basa-basi ringan, atau sekadar mengakui keberadaannya.
Kalau itu dianggap terlalu rendah, mungkin standar “tinggi”-nya memang berbeda.
Tapi bagi saya, bersikap manusiawi bukan soal turun derajat—
melainkan menolak lupa dari mana saya berdiri.
0 komentar