Rantai yang Berhenti di Saya

by - 9:23 AM

Hal yang membahagiakan saya hari ini hanya satu.

Dan justru karena itu sederhana, ia terasa utuh.

Cara mengajar guru di sekolah anak saya ramah anak.
Tidak ada kalimat, “Sholat nanti masuk neraka.”
Yang ada hanya: “Mari sholat. Ini kewajiban, dan biar hati tenang.”

Kalimat itu terdengar biasa bagi banyak orang.
Tapi bagi saya, itu seperti napas yang akhirnya dilepas setelah lama ditahan.

Karena itu kalimat yang dulu ingin saya dengar.
Bukan ancaman.
Bukan ketakutan.
Bukan imajinasi hukuman yang terlalu besar untuk batin anak kecil.

Saya menyadari sesuatu yang pelan tapi penting:
kalimat itu tidak datang terlambat—ia datang lintas generasi.

Saya tidak mendengarnya sebagai anak.
Tapi anak saya mendengarnya sekarang.
Dan entah kenapa, itu sudah cukup untuk membuat satu mata rantai berhenti di saya.

Bukan berarti semuanya sembuh.
Masih ada residu.
Masih ada sisa-sisa rasa yang kadang muncul seperti dengung jauh.
Dan tidak apa-apa.

Saya tidak lagi berniat menghapus konsep neraka.
Saya juga tidak ingin menertawakan iman.
Yang saya ingin lakukan hanyalah memberi konteks dan ruang duduk.

Kalau suatu hari anak saya takut tentang neraka, saya tidak akan menyuruhnya diam.
Saya tidak akan bilang, “Jangan mikir.”
Saya akan mengajaknya duduk bareng.

Saya akan mengatakan:
ini konsekuensi, bukan ancaman.
Ini bagian dari tanggung jawab, bukan alat menakut-nakuti.

Dan saya ingin anak saya tahu satu hal yang dulu tidak pernah dijelaskan pada saya:
bahwa berbuat baik tidak harus selalu karena ingin surga atau takut neraka.
Berbuat baik bisa dimulai dari alasan paling sederhana dan paling manusiawi—
karena kamu manusia.

Itu saja.

Tidak heroik.
Tidak meledak-ledak.
Tapi jujur.

Dan untuk hari ini, itu sudah lebih dari cukup.

Selesai.

You May Also Like

0 komentar