Hantunya Pergi Setelah Rumahnya Dirapikan

by - 10:05 PM

Ada fase dalam hidup saya ketika dunia terasa terlalu ramai, padahal yang paling ribut justru kepala sendiri. Saat itu, batin belum serapi sekarang. Emosi datang tumpang tindih, pikiran saling mendahului, dan tubuh seperti tidak pernah benar-benar pulang ke dirinya sendiri.

Di fase itu, saya sering merasa diawasi. Bukan perasaan simbolik atau puitik—ini sensasi yang sangat jasmani. Bulu kuduk mudah bereaksi, jantung siaga tanpa alasan jelas, dan kesimpulan datang begitu saja: di sini ada hantu. Hantu beneran.

Saya tahu ini terdengar ganjil. Tapi tubuh, waktu itu, seolah punya logikanya sendiri. Ada respons fisik yang mendahului nalar. Seakan ada energi tak kasat mata yang lewat, lalu tubuh berkata, “awas.” Pikiran hanya mengikuti: mungkin ini metafisik. Mungkin ada sesuatu yang mengawasi.

Menariknya, saya tidak pernah merasa takut dalam arti panik. Lebih ke menghindar. Menghindari ruang gelap, menghindari keheningan tertentu, bukan karena tidak berani, tapi demi menjaga kewarasan. Ada bagian dari diri saya yang berkata, kok pikiran saya begini ya? dan memilih mundur selangkah.

Lalu saya memulai proyek kecil yang tidak ada sertifikatnya: merapikan rumah batin. Tidak heroik, tidak spiritual-spiritual amat. Hanya membereskan emosi yang saling tabrakan, memberi label pada rasa yang terlalu lama dibiarkan liar, dan menerima bahwa tidak semua harus selesai sekarang. Sebagian ditata, sebagian ditunda, sebagian dibiarkan begitu saja karena memang belum waktunya.

Proyek ini tidak cepat. Bahkan sampai sekarang belum selesai. Tapi dampaknya terasa nyata.

Perlahan, sensasi “diawasi” itu berkurang. Bukan hilang total—kadang masih datang. Tapi rasanya berubah. Dulu intens, sekarang tawar. Dulu tubuh bereaksi duluan, sekarang pikiran sempat bertanya, ini apa atau cuma lelah? Dan sering kali, jawabannya sederhana: saya capek.

Saya mulai curiga—jangan-jangan yang selama ini saya sebut hantu bukan entitas di luar diri, melainkan sisa-sisa emosi yang tidak tertata. Ketika batin kacau, otak mencari penjelasan paling cepat. Yang tak terlihat diberi wajah. Yang tak bernama diberi cerita. Tubuh, yang tidak pandai berbohong, mengekspresikannya lewat rasa waswas.

Bukan berarti pengalaman itu palsu. Tubuh saya benar-benar merasakannya. Tapi mungkin penafsirannya yang berlebihan.

Kritik untuk diri saya sendiri cukup sederhana dan agak menampar: saya terlalu cepat memberi makna metafisik pada kegelisahan psikologis. Alih-alih bertanya kenapa saya lelah, saya sibuk bertanya siapa yang ada di sini. Padahal, mungkin yang perlu dirapikan bukan ruangan, tapi pikiran yang menumpuk seperti barang-barang lama.

Sekarang, ketika sensasi itu muncul lagi, saya tidak lagi lari. Saya duduk sebentar. Saya cek: emosi apa yang belum dibereskan, pikiran mana yang belum selesai, tubuh bagian mana yang minta istirahat. Tidak selalu berhasil, tapi cukup untuk membuat “hantu” itu kehilangan daya.

Kesimpulannya agak lucu dan sedikit menghantam ego:
selama ini saya sibuk waspada pada yang tak kasat mata, padahal yang paling sering bikin ribut adalah batin sendiri yang belum dibereskan.

Dan kabar baiknya—yang ini benar-benar terasa—ketika rumah batin mulai rapi, tamu-tamu aneh itu jarang betah. Entah mereka memang tidak ada, atau memang tidak lagi dibutuhkan untuk menjelaskan kegaduhan.

Saya tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya, saya tidak terlalu butuh tahu.

You May Also Like

0 komentar