Gudang Tidak Pernah Rapi Dalam Sehari

by - 10:38 PM

 

Saya menulis ini bukan untuk mengajari siapa pun. Saya menulis agar suatu hari, ketika batin kembali gaduh, saya bisa membuka tulisan ini dan mengingat: oh iya, memang begini polanya.

Sebagai orang yang sehari-hari hidup di dunia perdagangan, saya akrab dengan gudang. Rak, stok, kategori, kode, alur keluar-masuk barang. Tidak ada yang romantis di sana. Yang ada hanya satu prinsip sederhana: barang harus mudah ditemukan saat dibutuhkan.

Kaos dicampur dengan daster itu masalah.
Ukuran kecil nyempil di rak ukuran besar itu masalah.
Barang rusak disimpan di rak barang siap jual itu kekacauan.

Gudang yang tidak tertata bukan cuma bikin capek, tapi bikin salah ambil keputusan. Dan dari situ saya sadar—pelan-pelan—batin manusia ternyata bekerja dengan cara yang sangat mirip.

Batin juga gudang.

Di dalamnya ada banyak kategori: sedih, marah, takut, kecewa, syukur, lega, harapan. Masalahnya bukan karena emosi itu ada. Masalahnya muncul saat emosi disimpan di rak yang salah.

Sedih saya simpan di rak marah.
Takut saya samarkan sebagai logika.
Lelah saya bungkus dengan bercanda.

Lalu saya heran sendiri kenapa batin terasa sesak dan reaktif.

Di titik ini, sebuah ayat yang sering saya dengar tiba-tiba terasa sangat personal: pertolongan Allah itu dekat. Selama ini saya membayangkannya sebagai sesuatu yang datang dari luar—peristiwa, orang, jalan keluar. Tapi mungkin maknanya jauh lebih sederhana dan lebih jujur: yang paling dekat dengan kekacauan batin saya adalah diri saya sendiri.

Kalau gudang berantakan, tidak ada kurir dari langit yang akan turun merapikannya. Yang ada hanya saya, membuka satu rak, satu per satu.

Namun di sinilah saya perlu mengkritik diri sendiri.

Saya ini tipe orang yang kalau sadar ada yang salah, ingin langsung beres. Seperti rapi-rapi gudang daster: ingin selesai hari itu juga. Padahal saya tahu betul risikonya. Gudang dibereskan total dalam sehari artinya toko tutup. Tidak ada transaksi. Tidak ada napas. Capek, emosi naik, dan biasanya berujung saling bentak.

Merapikan gudang batin pun sama.

Kalau saya memaksa semuanya selesai sekaligus—mengulik semua luka, menuntut semua emosi langsung tertata—yang terjadi bukan ketenangan, tapi kelelahan. Relasi terganggu. Saya jadi tidak hadir utuh di kehidupan sehari-hari. Seperti pedagang yang sibuk di belakang sampai lupa ada pembeli di depan.

Maka pelajaran berikutnya muncul: ritme lebih penting daripada hasil cepat.

Tidak semua harus dipindahkan hari ini.
Tidak semua harus dibereskan sekarang.

Di gudang daster, kadang masih ada sisa pipa instalasi listrik. Kalau mengganggu, dipindah. Kalau tidak, dibiarkan dulu. Bukan karena malas, tapi karena prioritas.

Di batin pun begitu.

Ada emosi yang memang belum sanggup saya urai sekarang. Selama ia tidak menghalangi lalu lintas utama—nafkah, relasi, ibadah, tanggung jawab—tidak apa-apa ia duduk di sudut. Dicatat. Disadari. Tapi tidak dipaksa.

Di sinilah tujuan saya menulis ini menjadi jelas:
bukan untuk menjadi manusia yang batinnya selalu rapi,
melainkan manusia yang tidak panik saat melihat kekacauan.

Saya ingin bisa berkata pada diri sendiri:
“Tenang. Ini hanya rak yang belum disentuh. Bukan tanda gagal.”

Karena gudang yang sehat bukan gudang yang selalu bersih, tapi gudang yang dipahami pemiliknya. Ia tahu di mana barang disimpan, apa yang belum sempat dibereskan, dan apa yang memang tidak perlu dipindah hari ini.

Kalau suatu hari batin kembali sumpek, saya ingin mengingat satu hal sederhana ini:
tidak perlu menutup toko hanya demi gudang terlihat rapi.

Cukup buka satu rak.
Rapikan pelan-pelan.
Dan tetap berjualan—tetap hidup—di waktu yang sama.

Itu sudah cukup.

You May Also Like

0 komentar