Timah Panas di Kepala Anak Kurus
Ada masa ketika aku benar-benar membenci Tuhan.
Bukan membenci karena ingin melawan, tapi karena aku tidak sanggup memahami kontradiksi yang ditanamkan terlalu dini.
Katanya Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Tapi yang pertama kali tinggal di kepalaku justru bayangan timah panas.
Di kampungku ada pandai besi. Aku sering menonton pembuatan wajan. Logam dipanaskan sampai cair, merah menyala, berkilau kejam. Maka ketika orang dewasa berkata, “Kalau wudhu tidak sempurna, bagian tubuhmu akan disiram timah panas di akhirat,” otakku tidak menafsirkannya sebagai kiasan. Aku membayangkannya persis seperti itu: cairan logam panas disiram ke tubuh kurus seorang anak.
Dan aku bergumam, dalam diam yang tak punya keberanian untuk melawan,
“Tuhan jahat ya?”
Pertanyaan itu tidak lahir dari kebencian ideologis. Ia lahir dari batin yang terlalu sensitif. Dari anak kecil yang berusaha patuh, tapi tidak diberi ruang untuk merasa aman. Kesalahan kecil dibalas dengan ancaman kosmik. Gerakan jari yang melenceng sedikit dalam tahiyat dipasangkan dengan gambaran malaikat memotong, menyambung, menyiram. Semua serba final. Semua serba mengerikan.
Aku tidak diberi penjelasan yang manusiawi.
Aku hanya diminta ikut.
Anak lain mungkin pulang mengaji lalu lupa. Jajan gorengan, main bola, pacaran kecil-kecilan. Aku tidak. Aku membawa pulang kalimat-kalimat itu. Aku simpan. Aku pikirkan. Aku ragukan. Dan sebelum sempat mengendap, ia berubah menjadi perang batin.
Ironisnya, aku dianggap anak cerdas. Nilai bagus. Patuh.
Tapi di dalam, aku merasa seperti menulis kepalsuan. Seolah aku melakukan semua dengan benar, tapi tanpa damai. Taat, tapi takut. Beriman, tapi waswas.
Hari ini, aku bisa menertawakannya.
Tawa yang tawar.
Aku tertawa bukan karena merasa lebih pintar sekarang, tapi karena jarak akhirnya tercipta. Aku bisa melihat bahwa yang masuk ke batinku dulu bukanlah Tuhan itu sendiri, melainkan cara manusia menyampaikan Tuhan—cara yang mereka terima, cara yang mereka warisi, cara yang efektif tapi kasar.
Yang salah bukan aku.
Dan bukan Tuhan.
Yang perlu dirapikan adalah jalur pesan itu dulu masuk ke kepalaku.
Aku tidak lagi ingin menyalahkan orang tua, guru, atau masa lalu. Mungkin memang begitu cara mereka bertahan hidup. Dengan ancaman. Dengan ketakutan. Dengan depresan instan bernama “awas”.
Hari ini aku memilih cara lain.
Mengendapkan, bukan memutus.
Merapikan, bukan membakar.
Dan ketika aku menertawakan semua itu—tentang timah panas, tentang hantu, tentang ketakutan kosmik—aku sadar satu hal sederhana:
Aku lelah karena berpikir sejak kecil.
Tapi setidaknya sekarang, aku tidak lagi memaksa diriku untuk takut agar dianggap benar.
Itu bukan kemenangan besar.
Tapi cukup untuk menutup hari dengan napas yang lebih lega.
0 komentar