Siapa yang Berhak Diceritakan, dan Oleh Siapa
Saya menyadari, yang sering membuat saya kesal bukan peristiwa besarnya, tapi cara sebuah cerita dibingkai. Seperti hari ini—makanan ditumpahkan, emosi naik sebentar, lalu pikiran saya meloncat ke hal lain yang tampaknya tidak ada hubungannya. Tapi ternyata ada benang merahnya.
Saya teringat bagaimana sebuah kisah sering dipersempit sejak kalimat pertama. Seolah nilai hidup seseorang baru sah jika dibuka dengan latar belakang tertentu. Seolah perjuangan butuh kontras agar layak dilihat. Dan di titik itu, saya refleks menolak. Bukan karena sombong, bukan karena merasa lebih tinggi—melainkan karena ada bagian batin saya yang tidak sudi direduksi.
Kenapa cerita manusia harus selalu diawali dengan penanda?
Kenapa pencapaian tidak boleh berdiri sendiri sebagai hasil dari usaha, ketekunan, dan keberuntungan yang berkelindan?
Reaksi awal saya sering keras. Ada umpatan batin, ada rasa jengkel yang spontan. Tapi menariknya, saya jarang berhenti di sana. Setelah tensi turun, saya melihat ulang dengan jarak yang lebih tenang. Saya sadar, sering kali yang bekerja bukan niat buruk, melainkan logika atensi. Cerita dikemas agar dibaca, bukan agar adil.
Dan di titik ini saya harus jujur pada diri sendiri:
saya tidak bisa mengontrol cara orang lain bercerita.
Yang bisa saya jaga adalah cara saya tidak ikut terperangkap di dalamnya.
Saya tidak ingin ikut-ikutan menilai diri sendiri melalui bingkai luar. Tidak ingin diam-diam menyetujui bahwa nilai hidup saya naik atau turun tergantung narasi yang melekat. Jika saya marah, biarlah itu menjadi alarm—bukan rumah untuk menetap.
Ada koreksi penting yang saya catat untuk diri sendiri:
jangan sampai penolakan saya terhadap label justru berubah menjadi identitas baru yang sama kaku. Menolak dikotakkan bukan berarti harus terus melawan kotak. Kadang cukup dengan tidak masuk ke permainan itu.
Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan yang lebih sederhana dan lebih sunyi:
setiap manusia berhak diceritakan secara utuh, atau tidak diceritakan sama sekali.
Dan jika suatu hari kisah saya dibaca orang dengan pintu masuk yang keliru, itu bukan tugas saya untuk memperbaiki semua persepsi.
Tugas saya hanya satu:
tetap hidup dengan jujur, menulis tanpa niat mengungguli, dan berhenti ketika batin mulai riuh.
Sisanya—biarlah cerita berjalan sendiri.
0 komentar