Ternyata Nafas Kemanusiaan Tidak Selalu Gratis (Dan Saya Baru Tahu)

by - 9:38 PM

 Belakangan ini ada satu hal kecil yang membuat saya takjub—dan jujur saja, agak menampar pelan. Bukan karena besar, justru karena sepele. Tentang orang-orang yang mampu mengkapitalisasi hal-hal yang selama ini saya anggap… ya, terlalu remeh untuk dipikirkan.

Kelas belajar prompt AI. Kelas e-commerce dasar: cara bikin akun toko, cara upload produk. Saya sempat mengernyit, dalam hati bertanya, ini kan tinggal klik-klik? Sampai satu hari saya sadar: oh, ternyata klik-klik itu bisa jadi barang dagangan. Diramu, diberi konteks, diberi rasa aman, lalu laku. Bukan karena ilmunya tinggi, tapi karena ia menjawab kebutuhan.

Lalu budaya jastip. “Saya lagi di alfa, ada yang mau titip?” Fee seribu per item. Seribu. Saya tertawa kecil, bukan meremehkan, tapi heran pada diri sendiri: kenapa hal seperti ini tidak pernah terlintas di kepala saya? Padahal secara logika, ini sederhana. Ada waktu, ada tenaga, ada kemudahan—lalu diberi nilai.

Di titik itu saya merasa salut. Bukan karena uangnya, tapi karena sudut pandangnya. Orang-orang ini melihat celah di ruang yang selama ini saya isi dengan niat baik tanpa hitung-hitungan. Saya tumbuh di lingkungan di mana tolong-menolong tidak pernah memakai label harga. Mengantar tetangga sakit ke dokter—tidak ada tarif. Titip beli bakso—sering kali uangnya saya tolak, saya serahkan saja. Bagi saya, itu bukan jasa. Itu refleks kemanusiaan.

Dan di situlah benturannya terjadi. Bukan benar lawan salah, tapi nilai lawan kebiasaan. Saya tidak merasa lebih suci, dan mereka juga tidak terasa serakah. Ini hanya dua cara hidup yang berbeda. Mereka mengemas waktu dan energi sebagai layanan. Saya mengemasnya sebagai hubungan.

Kritiknya, tentu saja, tidak keluar dari mulut orang lain. Kritik itu muncul dari dalam kepala saya sendiri. Jangan-jangan selama ini saya terlalu romantis pada kata “ikhlas” sampai lupa bahwa hidup juga butuh sistem. Jangan-jangan saya mengira semua orang berjalan dengan bensin yang sama, padahal ada yang perlu mengisi ulang dengan cara yang lebih terukur.

Tapi di sisi lain, ada juga catatan kecil yang saya jaga agar tidak hilang: tidak semua hal harus dikapitalisasi. Ada ruang-ruang yang kalau diberi harga, justru kehilangan maknanya. Dan mungkin tugas saya bukan berubah menjadi mereka, atau mengajak mereka menjadi saya, tapi tahu kapan harus memberi, dan kapan wajar jika orang lain menarik biaya.

Kesimpulannya sederhana, dan agak lucu kalau diucapkan jujur:
ternyata dunia tidak kekurangan ide uang, yang kurang itu saya—dalam hal melihatnya. Dan tidak apa-apa. Kekaguman kecil ini tidak memaksa saya berubah, tapi cukup menggeser sudut pandang. Dari yang semula menganggap sepele, menjadi paham: bagi orang lain, ini bukan remeh—ini cara bertahan hidup.

Dan hari itu saya tersenyum sendiri. Bukan karena ingin ikut-ikutan pasang tarif, tapi karena sadar: saya baru saja belajar sesuatu, tanpa perlu daftar kelas.

You May Also Like

0 komentar