Surat untuk Ayah

by - 11:58 PM



Ayah,

Aku menulis ini bukan untuk menyalahkan,
juga bukan untuk membenarkan apa pun.
Aku menulis karena aku ingin jujur —
pada diriku sendiri, dan pada Ayah.

Dulu, saat aku kecil,
aku ingin belajar.
Aku ingin duduk, membaca, dan bertanya.
Tapi sering kali yang Ayah lihat hanyalah
tubuh yang harus bekerja,
bukan pikiran yang ingin tumbuh.

Aku tahu Ayah lelah.
Aku tahu hidup Ayah keras.
Dan mungkin, dunia Ayah memang tidak memberi banyak pilihan.

Tapi saat itu, aku belum cukup besar
untuk memahami semua itu.
Aku hanya tahu satu hal:
aku ingin belajar,
dan aku harus memperjuangkannya diam-diam.

Ayah bilang,
“Untuk apa belajar?”

Hari ini aku tidak marah pada kalimat itu.
Aku mengerti,
itu bukan kebencian pada ilmu,
tapi ketakutan Ayah akan dunia yang tidak Ayah kenal.

Aku menolak jalan itu, Yah.

Bukan karena aku tidak menghormati Ayah,
tapi karena aku ingin hidupku utuh —
dengan tangan yang bisa bekerja
dan pikiran yang boleh bermimpi.

Sekarang aku sudah menjadi ayah.

Dan di titik ini, aku baru benar-benar memahami Ayah.

Mendidik itu tidak mudah.
Mencintai itu tidak selalu rapi.
Aku ingin Ayah tahu,
aku tidak membalas luka dengan luka.
Aku memilih membalasnya dengan kesadaran.
Aku hadir untuk anakku.
Aku tidak memaksanya menjadi aku,
dan aku tidak memotong mimpinya
hanya karena aku takut.

Aku menanamkan tanggung jawab,
bukan ketakutan.
Aku mengajarkan kausalitas,
bukan kepatuhan buta.

Yah,

aku sering datang ke makam Ayah.
Aku berdoa.
Aku bersedekah atas nama Ayah.
Bukan karena aku harus,
tapi karena aku ingin.
Aku tidak ingin Ayah hanya dikenang
sebagai masa lalu yang berat,
aku ingin Ayah tetap hidup
dalam kebaikan yang mengalir.

Kalau Ayah bisa melihat aku sekarang,
aku ingin Ayah tahu:

aku baik-baik saja.
Aku berdiri dengan kakiku sendiri.
Dan aku tidak lupa dari mana aku berasal.
Terima kasih, Yah.

Untuk hidup yang keras,
yang mengajariku memilih jalan yang lebih lembut
tanpa menjadi lemah.
Aku memaafkan Ayah.
Dan aku juga memaafkan diriku yang dulu
harus tumbuh terlalu cepat.

Doaku untuk Ayah tidak pernah putus.
Seperti cintaku —
diam, tapi tetap ada.

Anakmu.

You May Also Like

0 komentar