Pamali, Neraka, dan Seorang Ayah yang Ditegur Anaknya

by - 10:44 PM

Yang lalu biarlah berlalu. Anak saya tidak kenal pamali, dan anehnya dunia tidak runtuh karenanya.

Suatu hari, saya menegur anak dengan nada datar, tanpa ancaman, tanpa asap neraka, tanpa embel-embel metafisik.
“Kakak, kalau jalan jangan sambil lihat HP ya. Nanti fokus hilang, bisa nabrak meja, cedera.”

Logis. Terlalu logis bahkan.
Ia mengangguk. Noted, jawabnya singkat.

Beberapa menit kemudian, saya sendiri berjalan sambil menatap layar HP—hal yang baru saja saya larang. Dan anak saya, seperti auditor internal yang jujur tapi belum digaji, langsung protes:
“Ayah nyuruh kakak jangan lihat HP kalau jalan. Itu ayah lakuin.”

Di titik itu, refleks lama hampir keluar.
Pengennya saya jawab: pamali.
Atau sekalian naik level: heh neraka lho.

Tapi yang keluar justru ini:
“Oh iya, ayah lupa. Maaf ya. Tadi ayah buru-buru jawab chat customer. Sekarang ayah jawab sambil duduk.”

Anak saya mengangguk lagi. Noted.
Selesai. Dunia tetap berputar. Tidak ada petir. Tidak ada azab. Tidak ada suara bass dari langit.

Di situ batin saya nyeletuk pelan:
“Heh… komik sialan Tatang S. Kalau nanti anak saya baca karya kamu, dia paling pasang wajah heran.”

Karena memang, anak saya tidak tumbuh dengan pamali.
Ia tumbuh dengan sebab-akibat.
Ia tidak tahu “jangan begini nanti kenapa-kenapa”, tapi paham “kalau begini, risikonya ini”.

Lucunya, saya dulu justru takut pamali. Bukan karena percaya, tapi karena penasaran.
Sebagai anak humoris yang ingin selamat dari neraka, saya pernah bertanya ke ibu:
“Bu… Pak Mali itu siapanya Bu Mali?”

Saya pikir ini pertanyaan aman. Setidaknya lebih aman daripada menantang hantu.
Ternyata salah.

Jawabannya bukan penjelasan, tapi vonis:
“Heh anak sekarang mah ga sopan. Jawab mulu kalau orang tua ngomong. Pamali tau. Orang yang ngelawan orang tua tempatnya di neraka.”

Neraka lagi.
Gara-gara nanya silsilah Pak Mali.

Sampai sekarang saya masih penasaran: siapa manusia pertama yang menciptakan pamali?
Rasanya layak dibangunkan patung perunggu di depan rumah saya:
Pak Mali, Sang Urban Legend.
Penemunya berhasil menciptakan satu kata yang bisa menghentikan logika, mematikan diskusi, dan menekan anak-anak tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Nyatanya, hampir semua pola asuh di lingkungan saya dulu berbasis dosis ketakutan.
Hantu itu parasetamol 600 mg.
Pamali itu ibuprofen dosis tertinggi.

Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk mematikan gejala secepat mungkin.

Bedanya, saya terlalu memaknai.
Jadi perang batin.
Teman-teman saya? Santai. Bahkan ada yang tumbuh lebih kasar, lengkap dengan bonus umpatan penghuni binatang.
Mungkin kalau saya terus melawan pamali, saya juga dapat jatah absensi fauna. Siapa tahu giliran “anjing”, “babi”, atau “monyet”.

Sekarang saya tertawa melihat perbedaannya.
Anak saya berani mengkritik saya, dan saya bisa minta maaf tanpa kehilangan wibawa.
Ia tidak patuh karena takut neraka.
Ia mengingatkan karena peduli keselamatan.

Dan saya sadar satu hal:
anak saya bukan tidak tahu pamali—
ia tidak membutuhkannya.

Ia belajar benar bukan karena ancaman, tapi karena logika.
Ia mendengar bukan karena takut, tapi karena relasi.

Kalau dulu saya dibesarkan agar tidak membantah,
sekarang saya membesarkan anak yang berani mengingatkan saya.

Dan anehnya…
dunia tetap baik-baik saja.

Pak Mali boleh tetap jadi legenda.
Di rumah saya, ia pensiun dengan hormat.

You May Also Like

0 komentar