Menutup Tahun dengan Bertanya Terlalu Banyak (Untungnya ke Diri Sendiri)
Akhir tahun biasanya identik dengan rangkuman pencapaian, angka, target, dan foto-foto yang dipilih dengan hati-hati agar terlihat “naik kelas”. Saya justru menutup 2025 dengan hal yang lebih sederhana dan mungkin kurang fotogenik: bertanya. Terlalu banyak bertanya, bahkan.
Saya bertanya tentang manusia. Mengamati mereka seperti menonton hujan dari balik jendela—tidak ingin mengubah arah jatuhnya, hanya ingin tahu kenapa bunyinya berbeda di setiap atap. Saya bertanya tentang reaksi, tentang kemarahan, tentang keheningan yang sering disalahpahami sebagai kelemahan. Saya bertanya tentang diri sendiri, meski pertanyaan itu sering tidak sopan dan datang di waktu yang tidak tepat.
Rumah batin menjadi topik yang tak pernah selesai. Bukan rumah yang ingin dipamerkan, tapi rumah yang ingin ditinggali dengan tenang. Saya mulai sadar, rumah batin bukan soal rapi atau berantakan, melainkan soal apakah saya betah pulang ke sana. Tahun ini saya banyak membersihkan sudut-sudut yang selama ini dibiarkan gelap, bukan untuk terlihat baik, tapi agar tidak tersandung lagi oleh barang yang sama.
Parenting pun ikut masuk ke ruang refleksi. Bukan sebagai teori besar atau nasihat sok bijak, melainkan sebagai kegagalan-kegagalan kecil yang pelan-pelan dipelajari. Saya mulai mengerti bahwa menjadi orang tua bukan tentang selalu tahu jawabannya, tapi tentang berani mengakui ketika bingung. Anak-anak, ternyata, tidak butuh orang tua yang sempurna—mereka hanya butuh orang dewasa yang mau belajar tanpa merasa terancam oleh pertanyaan polos.
Semua itu saya pikirkan, saya ragukan, lalu saya endapkan. Tidak selalu berurutan. Kadang ragu datang lebih dulu, baru berpikir belakangan. Kadang endapan muncul tanpa saya tahu kapan prosesnya dimulai. Yang pasti, saya menuliskannya. Menulis menjadi kebiasaan yang aneh tapi menyelamatkan. Blog saya bukan etalase kebijaksanaan, lebih mirip ruang tamu yang kadang berantakan, tapi jujur.
Menulis secara naratif memberi saya jarak yang sehat. Saya bisa melihat diri sendiri seolah saya orang lain—tanpa harus memihak, tanpa harus membela. Ada nafas yang lebih netral di sana. Tidak tergesa-gesa ingin benar, tidak panik ingin diakui. Justru di situ saya belajar memeluk diri sendiri dengan cara yang tidak sentimental, tapi juga tidak dingin.
Humornya datang belakangan. Humor satir yang tidak menyerang siapa pun, kecuali ego sendiri. Saya menertawakan kebiasaan saya yang terlalu serius membaca manusia, seolah hidup ini skripsi panjang yang tidak pernah sidang. Tapi mungkin justru itu cara saya bertahan: berpikir, meragukan, lalu menertawakan diri sendiri sebelum hidup melakukannya lebih dulu.
Menutup 2025, saya tidak merasa menjadi versi yang “lebih hebat”. Saya hanya merasa lebih akrab dengan diri sendiri. Lebih tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan kapan harus berhenti menganalisis lalu minum kopi saja. Tahun ini mengajarkan saya bahwa memahami manusia—termasuk diri sendiri—bukan soal sampai pada kesimpulan, tapi soal berani tinggal lebih lama di pertanyaan.
Jika tahun depan saya masih suka bertanya terlalu banyak, semoga pertanyaannya semakin jujur. Jika saya masih menulis, semoga tulisannya tetap bernapas. Dan jika suatu hari saya terlihat tenang, semoga itu bukan karena sudah selesai, tapi karena akhirnya berdamai dengan proses yang memang tidak pernah benar-benar rapi.
Akhirnya, saya menutup tahun ini tanpa resolusi besar. Cukup satu niat kecil: terus mengamati, menulis, dan pulang ke rumah batin tanpa perlu mengetuk terlalu keras.
0 komentar