Tentang Relevansi, Bukan Tentang Bagus atau Jelek

by - 8:15 AM

Ada satu intuisi yang sejak lama terasa akrab, tapi baru belakangan ini ingin saya beri nama dengan tenang. Bukan untuk dipamerkan, bukan juga untuk dibela. Hanya ingin dipahami apa adanya.

Saya menyadarinya saat membaca buku.

Ada buku yang selesai saya baca lalu saya tutup dengan satu kalimat sederhana di kepala: ini bagus. Tidak perlu analisis panjang, tidak perlu pembenaran. Rasanya seperti bercermin. Ceritanya tentang anak-anak yang hidup di keterbatasan, bergerak dari bawah, dan menggenggam satu ambisi yang sama: pendidikan. Saya mengenali suasananya, bukan hanya alurnya. Saya mengenali rasa letih, harap, dan keras kepala yang pernah saya jalani sendiri. Buku itu tidak sedang membuktikan kualitasnya kepada saya—ia hanya sedang relevan.

Lalu ada buku lain. Novel remaja, kisah asmara ringan, konflik yang tidak pernah benar-benar singgah dalam hidup saya. Saya membacanya tanpa emosi yang kuat. Tidak terganggu, tidak terpikat. Rasanya netral. Bukan jelek, tapi juga tidak meninggalkan bekas. Dan saya tidak merasa perlu menilainya lebih jauh. Buku itu mungkin sangat berarti bagi orang lain. Hanya saja, ia tidak sedang berbicara kepada saya.

Dari situ, saya mulai memahami sesuatu: sering kali yang kita sebut “bagus” sebenarnya adalah “kena”.

Hal yang sama saya lihat di ruang lain—yang jauh dari rak buku. Di dunia live commerce. Banyak yang mengira orang bertahan karena penjualnya menarik atau produknya murah. Padahal, dari yang saya amati, orang betah karena suasananya terasa dekat. Ada potongan hidup mereka di sana. Ada kegelisahan, harapan kecil, atau rutinitas yang mereka kenali. Produk hanyalah jembatan. Yang membuat transaksi terjadi adalah rasa: ini tentang saya.

Bukan berarti kualitas tidak penting. Tapi kualitas saja tidak selalu cukup. Tanpa relevansi, sesuatu bisa tetap baik—hanya saja tidak hidup di batin orang yang melihatnya.

Pemahaman ini tidak membuat saya merasa lebih benar, apalagi lebih pintar. Justru sebaliknya. Ia membuat saya lebih tenang. Tidak lagi tergesa menyebut sesuatu buruk hanya karena tidak menyentuh saya. Tidak juga memaksa diri menyukai hal yang tidak punya hubungan dengan perjalanan hidup saya.

Mungkin pada akhirnya, kita semua sedang berjalan dengan peta batin masing-masing. Apa yang terasa penting bagi seseorang, bisa saja terasa biasa bagi yang lain. Dan itu tidak apa-apa.

Karena tidak semua hal diciptakan untuk semua orang.
Dan tidak semua “bagus” harus kita rasakan sebagai milik kita.

Kadang, yang sedang terjadi hanyalah pertemuan—atau ketidakbertemuan—antara cerita dan pengalaman hidup.

Dan saya rasa, itu sudah cukup untuk diterima dengan tenang.

You May Also Like

0 komentar