Belajar Menjadi Manusia yang Adil, Setelah Terlalu Cepat Memberi Nama
Saya menyadari satu hal yang cukup mengganggu sekaligus mencerahkan: betapa cepatnya saya memberi nama pada manusia lain.
Dalam keseharian, saya terbiasa melihat—lalu menyimpulkan. Anak ini “anak komplek”. Anak itu “anak kampung”. Yang satu terlihat rapi, sinkron, hadir utuh. Yang lain terasa kaku, canggung, seolah tubuh dan jiwanya belum sepakat berjalan bersama. Lama saya mengira ini soal ekonomi. Kaya dan miskin. Cukup dan kekurangan. Bahasa sehari-hari menyebutnya begitu, dan saya menggunakannya tanpa banyak tanya.
Padahal, semakin saya perhatikan, yang saya lihat bukanlah angka, bukan kepemilikan, bukan status sosial. Yang saya tangkap adalah raut wajah. Tarikan halus di sekitar mata. Cara bahu menahan beban. Cara tubuh berdiri, seolah selalu siap menghadapi sesuatu yang belum tentu datang.
Saya mulai curiga: jangan-jangan yang saya sebut “kelas sosial” itu sebenarnya bukan soal harta, melainkan soal rasa aman.
Ada manusia yang hidup dengan aman relatif. Bukan berarti hidupnya tanpa masalah, tapi ada ruang untuk bernapas. Ada jeda. Ada keyakinan kecil bahwa besok, meski tidak sempurna, masih bisa dihadapi. Rasa aman ini—anehnya—terlihat di wajah. Bahkan ketika bajunya biasa saja, bahkan ketika tidak sedang tersenyum, tetap ada kesan utuh. Tidak terpecah.
Di sisi lain, ada manusia yang hidup dalam tegang kronis. Hidup di mode siaga. Setiap hari adalah antisipasi: kalau ini gagal bagaimana, kalau itu runtuh bagaimana, kalau besok lebih berat bagaimana. Tubuhnya hadir, tapi pikirannya selalu sedikit di depan, bersiap. Wajahnya bukan tidak menarik—ia hanya lelah menahan.
Di titik ini, saya merasa perlu menarik rem pada diri sendiri.
Selama ini, ketika saya berkata “ini anak komplek” atau “ini anak kampung”, yang saya lakukan bukan sekadar mendeskripsikan. Saya sedang menyederhanakan manusia. Saya sedang memotong cerita panjang mereka menjadi satu label yang mudah dicerna. Padahal, yang saya lihat hanyalah hasil akhir dari kondisi panjang yang tidak selalu mereka pilih.
Ini bukan soal membela siapa pun. Bukan juga soal menolak realitas. Realitas tetap ada. Perbedaan tetap nyata. Tapi memberi nama dengan lebih jujur membuat saya lebih tenang sebagai manusia.
Bukan kaya versus miskin.
Melainkan aman relatif versus tegang kronis.
Ketika saya mengganti bahasanya, cara pandang saya ikut bergeser. Saya tidak lagi sibuk mencari siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Saya mulai bertanya: sejauh apa jarak seseorang dari rasa aman? Dan apa yang bisa dilakukan agar jarak itu tidak semakin melebar—setidaknya dalam cara saya memandang mereka.
Tulisan ini bukan pengakuan dosa, juga bukan manifesto moral. Ini hanya catatan kecil agar saya tidak lupa: manusia bukan raut wajahnya saja, bukan label sosialnya saja, bukan hasil pengamatan sepintas di keramaian.
Kadang, menjadi adil tidak butuh tindakan besar.
Cukup dengan berhenti terlalu cepat memberi nama.
Dan mulai belajar melihat manusia sedikit lebih lama.
0 komentar