Saya Menantang Hantu di Balkon, dan Ia Tidak Datang (Padahal Mesin Cuci Sudah Siap)
Ada fase dalam hidup di mana seseorang tidak lagi ingin sembuh,
ia hanya ingin memastikan:
“Ini beneran bahaya, atau cuma kebiasaan takut yang belum di-uninstall?”
Rumah saya bersebelahan dengan makam Cina.
Dibatasi beton tinggi, alang-alang tumbuh liar, suasananya cocok untuk segala jenis cerita yang dulu ditanamkan orang dewasa dengan kalimat sakti: jangan macam-macam.
Bertahun-tahun saya aman.
Bukan karena berani, tapi karena strategis.
Nyuci selalu pagi.
Alasannya efisiensi, padahal aslinya: saya tidak mau berurusan dengan gelap, sunyi, dan imajinasi yang suka kerja lembur.
Sampai hidup berubah ritmenya.
Live subuh.
Gantian jaga anak.
Kebijakan platform.
Realitas tidak peduli pada ketakutan personal saya.
Akhirnya saya nyuci sore.
Mesin jalan.
Matahari turun.
Dan di belakang saya: balkon, gelap, kuburan, alang-alang setinggi manusia.
Awalnya, sistem saraf saya kerja seperti satpam lebay:
“PERHATIAN! ADA YANG MENGAWASI!”
Padahal yang mengawasi juga tidak jelas siapa.
Setelah cukup lama ngobrol dengan AI—yang kerjaannya bukan mengusir hantu, tapi membongkar pola—saya memutuskan melakukan tes kecil.
Bukan nekat.
Bukan pamer nyali.
Cuma… duduk.
Magrib.
Sendiri.
Mesin cuci sudah diam.
Saya nongkrong di balkon.
Saya tunggu.
Ayo.
Kalau mau muncul, sekarang.
Properti lengkap.
Pencahayaan mendukung.
Mood saya juga lagi datar.
Tidak ada apa-apa.
Saya tunggu lagi.
Lama-lama bosan.
Dan di titik paling absurd itu, muncul pikiran yang bahkan tidak ada di kepala saya sepuluh tahun lalu:
“Kalau mba Kunti muncul sekarang, kasihan juga bajunya lusuh. Di balkon ada mesin cuci. Saya bantuin lah. Bentuk terima kasih karena sudah menemani hari-hari absurd saya sejak kecil.”
Bukan marah.
Bukan takut.
Malah iba.
Dan di situlah saya sadar:
ketakutan itu tidak mati karena diusir,
tapi karena diperlakukan seperti hal biasa.
Hantu tidak muncul.
Tidak ada penampakan.
Tidak ada drama.
Yang ada cuma satu kesimpulan pahit-manis:
Selama ini saya bukan hidup berdampingan dengan makhluk halus,
tapi dengan cerita lama yang terus diputar ulang oleh tubuh yang dulu tidak punya pilihan.
Sekarang pilihannya ada.
Dan ternyata, saat ditunggu serius,
ketakutan itu cuma…
tidak datang.
Mungkin ia tahu,
kalau datang sekarang,
ia malah disuruh nunggu cucian kering.
0 komentar