Mimpi Dapat Ikan, Bangun-bangun Masih Nyari Umpan
Saya ingin bicara jujur, setidaknya kepada diri sendiri.
Tentang satu ego kecil yang selama ini sering saya biarkan hidup: mempercayai tafsir mimpi.
Anehnya, saya tahu ini rapuh. Saya tahu logikanya bolong. Tapi tetap saja, setiap kali mimpi tertentu datang, ada harapan kecil yang menyelinap. Mimpi dapat ikan—katanya rezeki besar. Mimpi lihat bayi—katanya kabar baik. Lalu saya bangun dengan perasaan setengah yakin, setengah menunggu semesta menepuk pundak saya.
Masalahnya bukan pada mimpi. Mimpi itu netral. Yang bermasalah adalah kebiasaan saya mencari makna instan. Saya ingin dunia memberi isyarat tanpa saya harus menunggu proses. Saya ingin validasi bahwa hari ini akan baik-baik saja, tanpa perlu bertanya: apa yang benar-benar sedang saya kerjakan?
Saya mulai sadar, tafsir mimpi sering bekerja seperti ramalan cuaca yang tidak pernah ditagih akurasinya. Kalau kejadian cocok, kita anggap benar. Kalau meleset, kita diam saja. Hipotesis yang gagal tidak pernah dicatat. Hanya yang “kena” yang kita ingat.
Ini bukan spiritualitas. Ini kebiasaan kognitif.
Saya tidak sedang menertawakan orang lain. Saya sedang menertawakan diri sendiri yang kadang lebih suka simbol daripada realitas. Padahal, rezeki tidak datang karena ikan di mimpi, tapi karena tangan yang bergerak setelah bangun. Bayi tidak membawa kabar baik, kecuali saya siap merawat konsekuensinya.
Yang lucu, saya bisa sangat kritis pada banyak hal, tapi tiba-tiba longgar ketika menyangkut harapan. Di situ ego saya bekerja halus: kalau alam semesta sudah memberi tanda, berarti saya boleh santai sebentar.
Tidak. Justru sebaliknya.
Mimpi adalah sisa pikiran yang belum selesai. Campuran memori, kelelahan, harapan, dan kecemasan yang sedang berantakan. Ia bisa indah, bisa absurd, bisa menyentuh—tapi tidak punya kewajiban untuk menubuatkan masa depan saya.
Saya tidak ingin memusuhi mimpi. Saya hanya ingin menurunkannya dari singgasana. Biarlah ia duduk sebagai bahan refleksi, bukan penentu langkah. Biarlah ia jadi cerita pagi, bukan keputusan siang.
Kesimpulan saya pelan tapi tegas:
kalau rezeki benar-benar besar datang hari ini, itu karena kerja kemarin.
Kalau hidup membaik, itu karena pilihan sadar—bukan karena ikan berenang di tidur saya.
Dan kalau suatu malam saya bermimpi lagi, saya akan tersenyum saja.
Bangun, tarik napas, lalu kembali ke hal yang lebih nyata:
umpan masih harus dilempar sendiri.
0 komentar