Ruang Tamu, Gorengan, dan Damai yang Tidak Teriak
Ada masa ketika lelah membuat pikiranku mengambil jalan aneh.
Bukan ingin mati—lebih tepatnya ingin berhenti ditagih.
Aku pernah berpikir: kalau ujungnya tetap disiksa, mau baik atau buruk, bagaimana kalau tubuhku saja kuserahkan ke dunia kedokteran saat mati—jadi cadaver—biar Tuhan puas?
Kalimat itu, kini kutahu, bukan doa.
Itu bahasa lelah.
Ia lahir dari rasa takut yang terlalu lama ditanamkan, terlalu keras, tanpa jeda untuk bertanya. Dari batin yang berusaha berdamai dengan ancaman yang tak pernah sempat dicerna. Bukan logika kematian—ini logika keputusasaan yang cerdas tapi kehabisan napas.
Pelan-pelan aku menaruhnya rapi.
Aku belajar bahwa Tuhan tidak butuh “kepuasan” dari penderitaan manusia. Gagasan itu bukan teologi matang; itu teologi trauma—cara mendidik yang mengandalkan takut karena tak punya alat lain. Hukuman bukan tujuan. Ia konsekuensi, dibingkai keadilan, bukan dendam. Dan Tuhan tidak bertransaksi dengan rasa sakit.
Aku juga belajar bahwa menyerahkan tubuh ke dunia kedokteran—di dunia nyata—adalah tindakan etis dan ilmiah. Nilainya ada di sini, di dunia. Bukan barter kosmik untuk menenangkan Tuhan. Yang sering bertransaksi dengan rasa sakit adalah manusia; Tuhan tidak.
Dan satu hal lagi yang jujur: pikiran ekstrem sering muncul ketika batin terlalu lama dipaksa patuh tanpa dipahami. Dulu aku menerima konsep berat sebelum punya otot batin untuk menahannya. Wajar jika sekarang pikiranku mencari jalan keluar ekstrem juga. Itu bukan dosa pikiran. Itu reaksi sistem saraf.
Maka malam ini, ketika pikiran itu muncul, aku tidak melawannya dengan dalil. Aku hanya mengakui: aku lelah, aku takut, dan itu boleh. Kadang yang dibutuhkan batin bukan jawaban, tapi izin untuk berhenti waspada.
Anehnya, setelah itu, suasana berubah.
Perang batinku dulu hanya berputar di tiga poros:
Tuhan kok jahat?
Aku kok kebanyakan mikir?
Pengajarnya psikopat, kok ngajarnya gitu?
Sekarang ketiganya duduk di ruang tamu. Ada gorengan di piring. Teh agak dingin. Mereka saling menatap sinis—iya. Tapi duduk.
Dan duduk itu penting.
Bukan lagi berantem di kepala. Bukan saling dorong di lorong gelap. Duduk artinya bisa kulihat, kudengar, dan—yang paling melegakan—tidak lagi mengambil alih kemudi.
“Tuhan kok jahat?” kini hanya pertanyaan lama yang dulu masuk lewat pintu takut.
“Aku kok kebanyakan mikir?” ternyata temperamen, bukan cacat.
“Pengajarnya psikopat?” hanyalah produk zamannya, bukan vonis akhir.
Mereka belum akur. Dan memang tidak harus.
Damai bukan berarti semua sepakat. Damai berarti tidak ada yang berteriak minta diselamatkan.
Kalau suatu hari salah satu berdiri dan mulai nyolot, aku sudah tahu caranya: bukan diusir, bukan dipukul—cukup disuruh duduk lagi. Ambil gorengan. Minum. Lalu bilang pelan dalam hati: “Oke, aku dengar. Tapi sekarang aku yang nyetir.”
Tidak heroik. Tidak dramatis.
Tapi cukup.
0 komentar