Antara Melepas dan Memanggil Kembali
Saya belajar banyak tentang relasi manusia justru dari urusan yang kelihatannya teknis: karyawan.
Dalam usaha daster ini, keluar–masuk karyawan adalah hal biasa. Ada yang paruh waktu, ada yang menetap cukup lama sampai rasanya sudah seperti bagian dari ritme harian. Suatu hari, kondisi usaha menurun. Tidak dramatis, tapi cukup untuk memaksa saya mengambil keputusan yang tidak menyenangkan: efisiensi.
Ada satu pekerja tetap yang terdampak. Disebut tetap karena ia sudah lama bekerja, paham ritme, dan tidak perlu banyak penyesuaian. Saat menyampaikan keputusan itu, saya memilih bicara apa adanya. Bahwa ini keputusan sulit. Bahwa usaha sedang tidak baik-baik saja.
Di akhir percakapan, saya menambahkan kalimat yang terasa penting bagi saya: “Doakan saja agar usaha ini kembali stabil. Kalau nanti kamu belum dapat pekerjaan dan saya kembali butuh orang, saya harap kamu masih mau bergabung lagi di sini.”
Istri saya menanggapi dengan nada khawatir.
“Jangan kasih harapan. Takutnya dia berharap lebih.”
Masuk akal. Saya paham maksudnya. Memberi harapan bisa jadi bentuk kekejaman yang halus jika tidak pernah ditepati.
Namun saya menepisnya pelan. Bukan karena merasa paling benar, tapi karena saya melihat usaha sebagai sesuatu yang hidup. Ia naik dan turun. Kadang sehat, kadang megap-megap. Jika nanti stabil kembali dan butuh orang, bukankah lebih manusiawi memanggil mereka yang sudah paham ritmenya?
Dalam bayangan saya, melepasnya tidak perlu disertai rasa bersalah yang berlebihan, dan baginya pun semestinya tidak meninggalkan luka terlalu dalam. Bukan karena ia tidak penting, tapi karena situasinya memang tidak sedang memungkinkan.
Tiga bulan berlalu. Usaha perlahan stabil. Kebutuhan karyawan muncul lagi. Saya menghubunginya. Tanpa drama. Tanpa basa-basi berlebihan. Ia menyanggupi dengan cepat. Bahkan terdengar lega.
Di titik itu saya berhenti sejenak dan bertanya ke diri sendiri: apakah saya sedang membenarkan keputusan saya sendiri?
Mungkin iya. Karena tidak semua cerita seperti ini berakhir baik. Ada kalanya orang tidak kembali. Ada kalanya harapan berubah jadi kekecewaan. Dan saya harus jujur mengakui, keputusan ini tetap mengandung risiko—bagi saya dan bagi dia.
Namun dari kejadian ini, saya belajar satu hal kecil: kejujuran yang tenang lebih baik daripada kepastian palsu. Saya tidak menjanjikan apa-apa selain kemungkinan. Dan kemungkinan itu, kebetulan, menjadi nyata.
Kesimpulannya sederhana. Dalam relasi kerja, kita sering terjebak antara dua ekstrem: terlalu dingin atau terlalu sentimental. Padahal yang dibutuhkan mungkin hanya satu hal—memperlakukan orang lain sebagai manusia dewasa, yang mampu memahami situasi tanpa perlu dimanipulasi harapannya.
Melepas dengan hormat.
Memanggil kembali tanpa sungkan.
Sisanya, biarlah waktu yang menjawab apakah keputusan itu layak atau tidak.
0 komentar