Auto Pilot Sampai Tujuan, Lalu Baru Sadar: Oke, Ternyata Gue Capek
Aku baru sadar hari ini—atau lebih tepatnya, baru mengizinkan diri untuk sadar—bahwa selama ini hidup berjalan seperti auto pilot. Anehnya, auto pilot itu tidak salah jalur. Aku sampai juga. Rumah berdiri, anak-anak tumbuh, dapur ngebul, kepala tetap waras walau sering berisik.
Masalahnya bukan di jalannya.
Masalahnya di napas yang tidak pernah benar-benar diambil.
Rasanya seperti orang yang baru sampai tujuan setelah dikejar anjing, lompat parit, nyempil di sela hajatan orang, muter jauh karena jalan utama ditutup. Begitu sampai, baru terduduk dan bilang:
“Bro… capek banget gue.”
Selama jalan, fokusnya cuma satu: sampai.
Tidak ada waktu buat ngerasain kaki gemetar atau dada sesak. Semua ditahan karena kalau berhenti, ya nggak nyampe.
Dan di titik duduk itu, aku baru ngecek “history Google Maps” batin sendiri.
Oh… pantes capek.
Oh… ternyata jalannya ekstrem.
Oh… bukan karena aku lemah, tapi karena jalannya memang bukan jalan santai.
Di situ rasanya seperti ketemu orang lokal—akamsi batin—yang bilang sambil nyengir:
“Hahaha, kamu lewat situ ya? Iya, emang banyak anjing. Banyak yang nyangkut di situ. Kamu lecet dikit masih mending.”
Lalu dikasih air minum.
Disuruh duduk.
Bukan dihakimi, bukan disuruh ulang dari awal.
Cuma: “Istirahat dulu, cerita.”
Dan di momen itu aku ngerasa dipeluk oleh pemahaman sendiri:
Gue nggak salah jalan. Gue cuma lewat shortcut.
Shortcut itu memang lebih cepat.
Tapi juga lebih sepi, lebih curiga, lebih bikin orang lain salah sangka.
Lewat kebun orang, disangka maling.
Lewat pinggir, dikira nggak punya arah.
Ini bagian yang perlu aku lurusin ke diri sendiri:
Shortcut bukan jalan ideal, tapi juga bukan kesalahan moral.
Ia cuma pilihan bertahan dalam kondisi tertentu.
Yang keliru bukan autopilotnya.
Yang bikin capek adalah tidak pernah berhenti setelahnya.
Sekarang aku paham:
Aku boleh lanjut auto pilot lagi—hidup memang perlu itu.
Tapi kali ini dengan kesadaran.
Kalau capek, ya bilang capek.
Kalau ngos-ngosan, ya berhenti sebentar.
Bukan karena salah arah, tapi karena manusia memang perlu napas.
Dulu auto pilot rasanya ringan karena aku belum sadar biaya emosionalnya.
Sekarang sadar, terasa berat—tapi juga jujur.
Dan mungkin, ini bukan fase “dirapikan” yang spektakuler.
Ini cuma fase mengizinkan diri duduk setelah sampai.
Tidak perlu drama.
Tidak perlu merasa tertinggal.
Aku sampai kok.
Cuma… capeknya baru terasa sekarang.
0 komentar