Hantu Kok Nggak Ikut Perang? Catatan Seorang Mantan Anak Takut Gelap

by - 4:31 AM

Saya baru sadar belakangan ini:

perasaan “ada hantu” itu ternyata bukan soal iman, bukan soal budaya, apalagi soal makhluk gaib itu sendiri.
Ia muncul dari trauma kecil yang tidak disengaja.

Waktu kecil, setiap kali nangis, yang datang bukan pelukan atau pertanyaan, tapi kalimat sakti orang dewasa di rumah:
“jangan nangis, nanti ada hantu.”
Kadang spesifik: pocong. Kadang kolektif: semua jenis hantu yang sedang hits di era itu.

Kalimat itu tidak lewat begitu saja.
Ia mengendap, lalu mengkristal di batin saya.
Bukan sebagai pengetahuan, tapi sebagai rasa: takut, tidak aman, dan sendirian.

Ironisnya, niat orang tua mungkin sederhana: metode depresan instan.
Anak berhenti nangis, cepat tidur, gampang makan, mau sekolah, tidak rewel.
Efektif. Murah. Cepat.
Sayangnya… keterusan.

Apalagi konteksnya mendukung:
rumah belum ada listrik, ruangan gelap, malam panjang, dan suara orang dewasa terdengar absolut.
Maka trauma itu tidak berdiri sendiri. Ia saling berkelindan.
Gelap + sunyi + ancaman = paket lengkap.

Akibatnya, saya tumbuh jadi orang yang relatif penakut.
Takut suasana gelap. Takut hal-hal yang bahkan tidak bisa saya jelaskan secara logis.
Takut pada sesuatu yang diulang-ulang sampai terasa nyata.

Karena itulah saya berjanji pada diri sendiri:
saya tidak akan melakukan ini ke anak saya.

Dan ternyata… berhasil.

Anak saya tidak takut hantu.
Ia tahu jenis-jenisnya, tapi dari tontonan saja.
Bukan dari ancaman.

Alih-alih takut, ia justru menghina dengan polos:

  • “Itu kunti ngapain sih di pohon?”
  • “Kalau pocong lewat portal komplek mentok dong, harus gelundung?”

Saya tertawa.
Dan di situ saya sadar:
ketakutan itu dipelajari, bukan bawaan.

Belakangan, setelah saya mulai “merapikan rumah batin” —
emosi tidak terlalu tumpang tindih, pikiran tidak saling tabrakan —
rasanya konsep hantu itu… absurd.

Dari zaman pra-kemerdekaan sampai sekarang, cerita gaib tumbuh subur dan mengakar kuat di budaya kita.
Tapi semakin dipikirkan, semakin muncul pertanyaan yang sama absurdnya dengan pertanyaan anak-anak saya:

Kalau hantu itu ada,
kenapa tidak bantu pejuang mengusir penjajah?

Kenapa diam saja waktu hutan ditebang?
Kenapa selalu digambarkan jelek?
Emang nggak ada yang ganteng?

Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar konyol, tapi sebenarnya sangat rasional.
Karena jawabannya mengarah ke satu hal:
hantu bukan agen sejarah, bukan pelaku moral, bukan subjek perubahan.

Ia tidak pernah muncul saat benar-benar dibutuhkan.
Ia hanya hidup di cerita, di kesunyian, di ketakutan, dan di celah batin yang belum dibereskan.

Dan mungkin itu sebabnya hantu harus selalu jelek.
Karena ia adalah proyeksi sisi gelap manusia.
Kalau hantu ganteng, ramah, dan elegan, ia kehilangan fungsi utamanya:
menakut-nakuti dan mengontrol.

Sekarang, ketika batin lebih rapi, hantu kehilangan pekerjaannya.
Ia tidak lagi menakutkan.
Paling banter, jadi bahan bercanda sebelum tidur.

Dan saya tersenyum menyadari satu hal kecil tapi penting:
saya tidak mewariskan ketakutan ke anak saya.
Saya mewariskan rasa ingin tahu… dan humor.

Mungkin ini bukan revolusi besar.
Tapi ini kemajuan peradaban kecil di satu rumah.

Dan jujur saja,
kalau ada hantu yang tersinggung membaca ini,
maaf ya—era Anda sudah lewat.

You May Also Like

0 komentar