Menjaga Kewarasan Menghadapi Markonah

by - 7:23 AM

Ada satu kata yang belakangan sering mampir ke batin saya saat live: harusnya.

Batin saya sebenarnya sudah relatif rapi, tidak berantakan, tidak juga meledak-ledak. Tapi entah kenapa, di sela suara sendiri yang terus mempromosikan barang, selalu muncul bisikan kecil itu: harusnya bisa lebih jelas, harusnya jangan menyuruh orang lain menebak.

Live commerce memang ruang yang unik. Ia bukan sekadar jualan, tapi pertemuan berbagai pola pikir dalam satu layar. Saya dan audiens sama-sama sadar, fashion itu dunia yang sangat luas. Model banyak, ukuran beragam, warna bisa puluhan, motif tak terhitung. Bahkan satu kata “daster” saja masih bercabang ke mana-mana. Panjang atau pendek, lengan apa, motif apa, ukuran berapa—semuanya perlu kejelasan.

Lalu muncullah Markonah.

Komentarnya sederhana, singkat, dan misterius:
“Kencana ungu 120.”

Selesai. Titik. Tanpa embel-embel.
Bukan salah, tapi juga belum cukup.

Saya, dengan napas yang masih tertata, bertanya baik-baik. Model apa? Daster, longdress, atau setelan? Hening. Saya lanjut spill satu model, lengkap, terstruktur. Baru dijawab: mau setelan. Saya tanya lagi—celana pendek atau panjang? Hening lagi. Saya spill lagi. Baru dijawab: celana panjang.

Dan ketika semua itu sudah dilewati, Markonah dengan tenang berkata:
“Oke kak, checkout di etalase 1, yang daster.”

Di titik itu, batin saya tertawa getir. Bukan marah besar, bukan juga putus asa. Lebih ke rasa lelah yang akrab: oh, begini lagi. Saya sadar, ini bukan pertama, dan jelas bukan terakhir.

Lucunya, saya tidak benar-benar marah. Karena dalam dunia live, Markonah adalah keniscayaan. Ia hadir dengan logika sendiri, ritme sendiri, dan cara berkomunikasi yang tidak bisa dipaksa mengikuti kerangka saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah menjaga diri agar tetap waras.

Maka saya ulang-ulang kalimat yang sama, dengan nada tetap ramah:
“Kakak kalau mau minta di-spill, boleh ya ditambahin modelnya apa, LD berapa, dan warnanya apa.”

Kalimat itu bukan teguran. Bukan sindiran. Ia lebih mirip pagar kecil, agar kewarasan saya tidak bocor ke mana-mana.

Saya akhirnya paham, menjaga kewarasan di sini bukan tentang mengubah Markonah. Itu mustahil. Yang bisa dijaga hanyalah posisi batin saya sendiri: tetap sopan, tetap melayani, tapi tidak ikut hanyut dalam absurditas.

Dan mungkin, itulah seni bertahan di ruang publik digital: menerima bahwa tidak semua orang ingin dipahami dengan cara yang sama, sambil tetap mengingatkan diri sendiri—pelan-pelan—bahwa harusnya itu boleh hadir, asal tidak menguasai.

Markonah akan selalu ada.
Yang penting, saya masih bisa pulang ke diri saya sendiri dengan utuh.

You May Also Like

0 komentar