Saya Ini Anti Stereotipe… Kecuali Saat Otak Saya Lagi Males
Saya sering bilang ke diri sendiri bahwa saya orang yang adil.
Tidak mudah menghakimi.
Tidak gampang melabeli.
Melihat manusia sebagai manusia, bukan kategori.
Sampai suatu hari, saya kepergok… oleh diri saya sendiri.
Saya sedang memikirkan soal stereotipe. Tentang golongan darah, tentang label sosial, tentang betapa mudahnya manusia menyederhanakan orang lain hanya dari satu potongan informasi. Saya bahkan sempat tertawa saat membaca stigma bahwa golongan darah tertentu dianggap “aneh”, “abu-abu”, atau “sulit dipahami”.
Lucunya, saya ikut tertawa sambil mengangguk pelan:
oh, iya juga…
Lalu, tanpa aba-aba, otak saya menyodorkan contoh konkret:
anak buah saya, golongan darah B.
Hidupnya urakan. Motor penuh lumpur, tapi selama masih bisa jalan, ya jalan saja. Prinsipnya sederhana: yang penting gelinding.
Dan refleks batin saya langsung berkata:
“Ya kan… B banget.”
Detik itu juga saya sadar.
Lho?
Bukannya dari tadi saya mengkritik stereotipe?
Saya tertawa kecil. Bukan tawa bangga, tapi tawa ketahuan.
Tertangkap basah sedang melakukan hal yang barusan saya kritik.
Di situ saya paham satu hal penting:
stereotipe itu bukan muncul karena manusia jahat, tapi karena otak manusia ingin cepat selesai. Dunia terlalu kompleks, terlalu ramai, terlalu banyak variabel. Maka otak membuat jalan pintas. Label. Pola. Kategori.
Masalahnya bukan di pikiran pertama.
Masalahnya kalau saya berhenti di situ.
Kalau saya mengunci seseorang hanya sebagai “golongan darah B”,
atau “tipe urakan”,
atau “kelas ini, lapisan itu”.
Untungnya, saya tidak berhenti.
Saya masih melihat dia sebagai pekerja, sebagai manusia, sebagai individu dengan fungsi dan cerita sendiri. Labelnya lewat, tapi tidak menetap.
Dan mungkin di situlah letak perbedaannya.
Saya menyadari, saya ini bukan manusia tanpa stereotipe.
Saya hanya manusia yang—syukurlah—masih bisa menertawakan egonya sendiri saat kepergok bekerja.
Saya tidak sedang ingin jadi manusia paling adil.
Cukup jadi manusia yang sadar saat sedang tidak adil.
Karena yang berbahaya bukan stereotipe.
Yang berbahaya itu merasa diri sudah kebal dari stereotipe.
Kalau saya masih bisa bilang,
“iya, barusan saya juga menstereotipkan,”
lalu tertawa kecil dan melonggarkannya kembali,
mungkin ego saya memang belum suci—
tapi setidaknya sudah mau duduk tenang.
Dan itu, buat saya, sudah cukup.
0 komentar