Doa untuk Prasangka Orang

by - 7:13 AM

Ada satu doa yang belakangan ini sering muncul justru saat pikiran sedang tenang. Bukan saat terdesak, bukan saat dompet kosong, tapi saat sedang cukup waras untuk menertawakan keadaan sendiri.

Doanya pendek, tapi niatnya dalam:

“Ya Allah, hamba sering dituduh punya banyak uang oleh mereka. Kabulkanlah prasangka mereka, ya Allah.”

Awalnya doa ini lahir dari kekesalan kecil yang berulang. Bukan marah besar, lebih ke rasa… heran. Kok bisa, ya? Di mata sebagian orang, hidup saya terlihat seperti orang berduit. Padahal yang terlihat itu cuma hasil editan waktu dan sudut pandang.

Mungkin karena rumah kecil yang pelan-pelan terisi.
Mungkin karena usaha yang kelihatannya jalan.
Mungkin karena saya jarang cerita bagian ngos-ngosannya.

Lalu muncullah komentar-komentar yang nadanya setengah bercanda, setengah yakin. Seolah-olah saya ini diam-diam menyimpan brankas di bawah kasur. Setiap kali mendengar itu, reaksi batin saya sama: wow… ternyata di mata mereka saya sekaya itu.

Padahal kalau mereka ikut sehari saja, mungkin ceritanya beda. Tentang bagaimana uang dihitung bukan untuk pamer, tapi untuk bertahan. Tentang bagaimana “punya” sering kali berarti “masih sanggup menutup kebutuhan bulan ini.”

Tapi lama-lama, kekesalan itu capek sendiri. Dan di titik itulah doa itu berubah bentuk. Dari keluhan, jadi candaan yang jujur.

Kalau memang orang-orang sudah berprasangka baik—meski keliru—kenapa tidak sekalian saya aminkan saja?

Ya Allah, kalau di mata mereka saya kaya, ya sudah.
Kabulkan saja.
Biar bukan cuma di prasangka, tapi juga di kenyataan.

Bukan kaya untuk pamer, tentu saja.
Cukup kaya untuk bernapas lebih panjang.
Untuk hidup tanpa was-was.
Untuk menolong tanpa harus menghitung ulang saldo.

Doa itu bukan tentang uang semata. Ia tentang rasa lelah yang akhirnya memilih tersenyum. Tentang menerima bahwa kadang hidup kita terlihat lebih rapi dari luar daripada dari dalam.

Dan kalau toh prasangka itu belum terkabul, setidaknya saya sudah belajar satu hal:
ternyata, di mata orang lain, saya sedang baik-baik saja.

Itu saja sebenarnya sudah cukup menghibur.

Tapi ya Allah…
kalau Engkau berkenan,
kabulkan saja prasangka mereka itu.

You May Also Like

0 komentar