Ayam Goreng, Oseng Buncis, dan Rasa yang Tidak Ada di Piring

by - 8:12 AM

Saya pernah berkata jujur kepada ibu mertua saya, “Bu, masakannya enak banget.”

Beliau menepis sambil tersenyum, hampir tertawa kecil.
“Enak apanya? Cuma goreng ayam sama oseng buncis. Nggak ada yang spesial.”

Lalu ia berlalu dengan tawa yang ringan, seolah pujian itu terlalu besar untuk menu sesederhana itu.

Saya sadar, yang saya maksud dengan enak bukan sekadar rasa di lidah. Ada suasana di situ. Ada kehadiran. Ada perasaan diterima. Dan rupanya, itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan bumbu dapur.

Saya tumbuh di lingkungan di mana makanan sering sudah tersaji di meja. Atau, lebih sering lagi, saya menyiapkan sendiri ala kadarnya. Orang tua bekerja, capek, waktunya terbatas. Pada masa itu saya berpikir sederhana: yang penting kenyang. Cukup.

Dan memang cukup—secara fisik.

Tapi entah sejak kapan muncul perasaan kosong yang sulit diberi nama. Makanannya tetap enak, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Bukan soal resep, bukan soal rasa. Lebih ke suasana makan yang hening, tanpa kehadiran emosional siapa pun.

Saya ingat pernah, dengan niat mencairkan suasana, berkata kepada ibu saya,
“Ma, makanannya enak, agak pedes dikit.”

Yang saya harapkan sebenarnya sederhana sekali. Bukan dialog panjang, bukan perhatian berlebihan. Cukup:
“Kamu kepedesan ya? Nih minum.”

Tapi yang keluar adalah kalimat yang sangat sesuai ekspektasi:
“Makan aja, udah disediain juga.”

Saya tidak sedih. Tidak marah. Bahkan tidak kaget.
Saya paham, ibu saya capek. Emosinya lelah. Ia tidak sedang jahat—ia sedang kehabisan tenaga.

Namun ruang kosong itu tetap ada. Dan saya mulai mengerti: ada kebutuhan batin yang saat itu tidak pernah benar-benar terisi. Bukan karena tidak dicintai, tapi karena tidak sempat saling hadir.

Ketika saya menikah, relasi dengan ibu mertua berjalan seperti relasi menantu-mertua pada umumnya. Aman di permukaan. Sopan. Tapi ada jarak halus yang dijaga kedua belah pihak. Tidak bermusuhan, hanya… berhati-hati.

Lalu jarak itu mencair bukan karena momen besar, tapi justru karena hal-hal sepele. Mengantar ke pasar. Membantu hal kecil. Membayar belanja sayur yang nilainya bahkan tidak signifikan. Gestur-gestur sederhana yang pelan-pelan berkata: saya ada, dan saya tidak sedang menghitung.

Di situ relasi berubah. Bukan karena status, tapi karena kedekatan yang tumbuh alami. Dan sejak itu, masakan ibu mertua terasa lezat—bukan hanya di lidah, tapi di batin.

Di titik ini saya perlu mengoreksi diri sendiri:
ini bukan soal ibu siapa yang lebih baik.
Bukan kompetisi kasih sayang.
Bukan glorifikasi satu, lalu merendahkan yang lain.

Masakan ibu saya juga enak. Di batin tetap terasa enak.
Hanya saja… ada sesuatu yang kurang. Dan itu tidak menjadikan siapa pun salah.

Saya akhirnya memahami: rasa kurang itu bukan tuduhan, tapi penjelasan. Ia lahir dari konteks hidup, dari waktu, dari kelelahan, dari kondisi yang tidak selalu bisa dipilih.

Dan hari ini saya bisa berdamai dengan itu.

Saya bisa menikmati ayam goreng dan oseng buncis tanpa perlu membandingkan masa lalu. Saya bisa menerima bahwa setiap orang memberi cinta dengan kapasitasnya masing-masing.

Kadang, yang membuat makanan terasa lezat bukan bumbunya,
melainkan seseorang yang hadir dan berkata—meski tanpa kata—
“Duduk. Makan. Kamu aman di sini.”

Dan itu cukup.

You May Also Like

0 komentar