Ketika Jejak Digital Lebih Ribut dari Nurani

by - 11:37 AM

Saya belakangan ini takjub pada satu hal yang sebenarnya tidak baru: kemampuan “detektif ala netizen”.

Ada kasus perselingkuhan figur publik yang berujung gugatan cerai. Awalnya saya menontonnya sambil lalu, iseng, seperti orang menonton keramaian dari kejauhan. Tapi lalu muncul rasa heran yang jujur: bagaimana bisa orang-orang menghubungkan unggahan lima tahun lalu, potongan caption, waktu posting, bahkan gestur kecil, lalu menyusunnya menjadi satu kesimpulan yang terdengar sangat meyakinkan?

Yang membuat saya terkesan bukan gosipnya. Bukan juga sensasinya. Yang membuat saya berhenti adalah cara berpikirnya.

Fragmen demi fragmen dikumpulkan. Hal-hal sepele yang biasanya kita lewatkan justru dijadikan petunjuk. Kalimat yang terdengar biasa, tapi konsisten. Keceplosan yang tampak tak penting. Semua dirangkai pelan-pelan, sampai membentuk satu narasi utuh. Rasanya mirip sekali dengan proses yang sering saya lakukan sendiri: merapikan rumah batin, menyusun ulang potongan ingatan dan perasaan, mencari benang merah dari hal-hal yang sebelumnya terasa acak.

Bedanya hanya pada wilayah.
Saya bekerja dengan variabel pribadi—emosi, pengalaman, reaksi.
Mereka bekerja dengan variabel sosial—jejak digital, relasi, waktu.

Tapi pola berpikirnya sama: manusia selalu ingin menemukan koherensi makna.

Mungkin karena itu saya tidak merasa jijik. Saya justru salut. Bukan karena mereka benar atau salah, tapi karena saya mengenali cara kerjanya. Ini bukan sekadar “katanya”. Ini kerja mengarsip, menghubungkan, dan menguji konsistensi. Secara kognitif, ini serius.

Namun di titik itu saya juga tersadar. Sejak kecil, rupanya saya memang tidak pernah menikmati cerita di permukaan. Saat anak-anak lain menonton pertarungan sederhana antara pahlawan dan monster, saya justru bertanya dalam hati: kenapa mereka berantem? sistemnya apa? kenapa konflik ini muncul? Bukan karena ingin terlihat beda, tapi karena memang seperti itu cara otak saya bekerja.

Maka ketika menonton gosip pun, saya tidak bisa sepenuhnya larut untuk menghakimi. Saya menonton, paham, lalu selesai. Tidak ada dorongan untuk ikut meramaikan atau berdiri di barisan moral tertentu. Karena bagi saya, relasi manusia tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Bahkan dalam kasus perselingkuhan sekalipun, saya tidak berhenti di pertanyaan “siapa salah”. Saya justru berhenti lebih lama di satu kesadaran yang sunyi dan tidak populer: semua pihak tetap manusia. Termasuk mereka yang melakukan kesalahan. Mereka membawa kebutuhan akan rasa dimiliki, rasa aman, validasi, atau pelarian—tanpa itu berarti tindakan mereka pantas dibenarkan.

Di sinilah batas etis itu terasa penting.
Kemampuan membaca pola bisa menjadi alat untuk memahami, tapi juga bisa berubah menjadi senjata untuk melumat. Jejak digital memang tidak pernah lupa, tapi nurani manusialah yang seharusnya menentukan ke mana jejak itu diarahkan.

Saya akhirnya paham kenapa saya bisa menonton keramaian semacam ini tanpa ikut tenggelam. Bukan karena saya kebal, tapi karena saya sudah selesai dengan kebutuhan untuk selalu berada di pihak yang “paling benar”. Saya tidak mencari musuh bersama. Saya hanya mengamati manusia, dengan jarak yang cukup agar tetap jernih.

Dan mungkin, di zaman di mana segalanya bisa diungkap, tantangan etis terbesar kita bukan lagi soal menemukan kebenaran—melainkan apa yang kita lakukan setelah merasa menemukannya.

You May Also Like

0 komentar