Lorong yang Sama, Udara yang Berbeda

by - 3:46 AM

 Kemarin saya menemani istri periksa kehamilan. Rumah sakitnya tergolong elite—berdiri di sebuah kota mandiri, semacam kota di dalam kota. Semua tersedia: pendidikan, ekonomi, kesehatan. Rapi, bersih, terkelola. Kami memilih layanan pribadi. Sederhana alasannya: kami mampu, dan kami ingin nyaman, ingin kepastian, ingin rasa aman.

Pilihan itu saya akui sebagai privilese. Tidak dibungkus pembenaran moral apa pun.

Namun di sela berjalan menuju ruang periksa, saya melewati satu lorong yang membuat langkah saya melambat. Di sana, kursi-kursi berjejer rapat. Pasien BPJS duduk menunggu antrean. Wajah-wajah tegang. Ada yang memijat perut, ada yang menahan nyeri, ada yang sekadar menatap kosong ke lantai. Saya kenal betul suasana itu. Pernah ada di posisi serupa. Ini bukan hal asing. Layanan kolektif, antrian panjang—ya, itu konsekuensinya.

Yang mengganjal bukan antriannya.

Ruangan itu pengap. Tidak ada AC. Bahkan kipas angin pun tidak terlihat. Udara terasa berat, padat oleh napas orang-orang yang sedang menunggu giliran untuk sembuh. Sementara beberapa meter dari situ—di lorong layanan pribadi—udara sejuk mengalir stabil. AC menyala penuh. Lantai mengilap. Ruang tunggu bersih. Kamar mandi pun terasa lebih bersih dari kamar mandi rumah saya sendiri, sampai saya tertawa kecil dalam hati.

Di titik itu, batin saya berkomentar pelan:
Kan tagihannya nanti juga dibayar negara ke rumah sakit. Bukan gratis sepenuhnya. Tapi kenapa keadilan sekecil udara sejuk saja terasa mahal?

Saya tidak sedang menuntut kesetaraan mutlak. Saya paham logika bisnis. Saya paham konsep kelas layanan. Bayar lebih, dapat lebih. Itu realitas yang tidak naif saya bantah. Bahkan saya ikut berada di dalamnya.

Tapi tetap saja, ada batas halus yang terasa dilampaui.

AC atau kipas angin bukan fasilitas mewah. Ia bukan spa, bukan layanan premium, bukan perlakuan eksklusif. Ia soal martabat dasar saat menunggu dalam kondisi sakit. Tentang bagaimana manusia diperlakukan saat paling rentan.

Saya membayangkan, jika nanti istri saya melahirkan di kelas yang lebih tinggi, mungkin akan ada layanan tambahan: perawat sigap, kamar nyaman, makanan lebih baik. Bahkan mungkin—dalam bayangan saya yang agak berlebihan—makan disuapi, ada sentuhan spa, ada rasa “dirawat sepenuhnya”. Dan di situlah pikiran saya berhenti, karena ujungnya terasa tidak nyaman: seolah manusia diperlakukan sesuai porsi bayarnya.

Sekali lagi, saya tidak sedang menyalahkan siapa pun secara membabi buta. Saya juga bagian dari sistem ini. Saya menikmati fasilitasnya. Saya tidak munafik.

Yang saya lakukan hanyalah mencatat satu keganjilan kecil di dalam diri.

Bahwa di rumah sakit—tempat semua orang datang dengan harapan yang sama: ingin sembuh, ingin aman—perbedaan metode pembayaran menjelma menjadi perbedaan rasa manusiawi. Bukan di dokter, bukan di obat, tapi di udara yang dihirup sambil menunggu.

Kesimpulan saya pun tidak heroik. Tidak ada seruan revolusioner. Hanya pengingat untuk diri sendiri:
privilege memang bisa dibeli, tapi kepekaan tidak otomatis ikut terpasang.
dan keadilan kadang tidak runtuh di keputusan besar, tapi di hal kecil yang dianggap sepele—seperti kipas angin yang tidak pernah dipasang.

Saya pulang dengan rasa campur aduk. Bersyukur, sekaligus gelisah.
Dan mungkin itu posisi paling jujur yang bisa saya ambil hari itu.

You May Also Like

0 komentar