Alhamdulillah, Tahun Baru Masehi Tidak Berselisih Paham
Saya tertawa cukup lama saat membaca kalimat itu:
“Tidak ada perbedaan, Tahun Baru Masehi jatuh pada Kamis, 1 Januari 2026.”
Lucunya bukan pada tanggalnya, tapi pada ketenangan kolektif yang menyertainya. Tidak ada sidang isbat. Tidak ada rukyat. Tidak ada hisab. Tidak ada debat grup WhatsApp keluarga. Semua sepakat. Dunia damai. Kalender menang.
Di titik itu, batin saya bicara pelan:
“Kenapa yang satu selalu rukun, dan yang lain sering ribut?”
Di Indonesia, kita sudah terbiasa hidup dengan perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, bahkan 1 Muharram. Ada yang naik ke menara, ada yang naik ke tabel. Ada yang melihat langit, ada yang melihat angka. Langitnya satu, tabelnya berbeda, manusianya sama-sama yakin.
Dan anehnya, saya juga pernah berdiri di dua posisi itu—
kadang ingin kepastian angka,
kadang ingin ketenangan keyakinan.
Saya mulai sadar, yang sering berisik bukan metode, tapi ego yang menempel pada metode. Seolah-olah Tuhan hanya mau didengar lewat cara yang kita pilih. Seolah-olah langit harus tunduk pada hitungan, atau hitungan harus tunduk pada langit.
Padahal, jika ditarik ke batin paling jujur, saya tahu:
yang kita cari bukan tanggal, tapi ketenangan.
Bukan benar-salah, tapi rasa cukup.
Kritiknya sederhana, dan saya tujukan pertama ke diri sendiri:
mengapa saya kadang lebih sibuk membela cara, daripada memaknai tujuan?
Mengapa saya lebih cepat tersinggung soal perbedaan waktu, tapi lambat bersyukur atas kesempatan ibadah yang sama?
Tahun Baru Masehi tidak pernah diperdebatkan bukan karena ia lebih suci, tapi karena tidak dibebani ego spiritual. Ia sekadar waktu, tidak diminta membuktikan iman siapa pun. Maka ia lolos dari konflik.
Di situ saya sampai pada kesimpulan yang terasa getir tapi menenangkan:
perbedaan bukan masalah iman,
yang sering jadi masalah adalah ketidakmampuan kita hidup berdampingan dengan perbedaan.
Jika saja batin bisa ikut sidang isbat, mungkin keputusannya sederhana:
“Silakan berbeda, asal tidak saling merendahkan.”
“Silakan yakin, asal tidak merasa paling sampai.”
Dan saya menutup renungan ini dengan senyum kecil:
Semoga suatu hari, perbedaan awal bulan Hijriah setenang 1 Januari—
bukan karena kita menyeragamkan cara,
tapi karena kita sudah selesai berdebat di dalam diri sendiri.
0 komentar