Darah A, B, AB, O — dan Ego yang Ikut Mengalir
Saya tumbuh di lingkungan yang gemar mengklasifikasikan manusia. Bukan dengan niat jahat, lebih ke kebiasaan. Seperti duduk santai lalu bertanya, “Golongan darah kamu apa?” seolah setelah itu watak seseorang bisa langsung diringkas dalam dua huruf.
Dan anehnya, saya ikut percaya. Atau setidaknya, pernah.
Golongan darah A katanya rapi, perfeksionis, mikir panjang.
B itu santai, kreatif, kadang dibilang egois.
O pemimpin alami, percaya diri, blak-blakan.
AB… nah ini yang menarik. Dibilang kompleks, sulit ditebak, terlalu banyak sisi. Campuran. Tidak konsisten. Terlalu “abu-abu”.
Saya pernah membaca—entah artikel, entah obrolan random yang kemudian dianggap fakta—bahwa di Jepang, golongan darah AB konon kurang disukai dalam dunia kerja. Bukan karena kompetensinya, tapi karena stigma sifatnya: sulit diatur, tidak stabil, terlalu unik untuk sistem yang rapi. Saya tidak tahu seberapa valid datanya, tapi narasinya hidup dan dipercaya. Dan itu saja sudah cukup untuk menunjukkan satu hal: manusia suka sekali mencari jalan pintas dalam memahami manusia lain.
Saya tertawa waktu pertama kali tahu itu. Tapi tawa saya pelan-pelan berubah jadi mikir.
Kok bisa ya, darah—yang fungsinya jelas-jelas biologis—ditarik sejauh itu ke wilayah karakter dan nasib?
Lalu saya bercermin.
Bukankah saya juga sering melakukan hal yang sama, hanya dengan label berbeda?
Kadang saya merasa “harusnya dia begini” karena latar belakangnya.
Kadang kecewa karena seseorang tidak sesuai dengan ekspektasi yang saya bangun sendiri.
Padahal ekspektasi itu lahir bukan dari siapa dia hari ini, tapi dari kotak kecil di kepala saya.
Golongan darah, zodiak, generasi, latar ekonomi, bahkan urutan anak—semuanya sering dipakai sebagai alat bantu memahami. Tidak salah. Yang jadi masalah adalah saat alat bantu itu berubah jadi palu, dan setiap manusia kita anggap paku.
Saya sendiri, kalau dipikir-pikir, mungkin akan dibilang “AB” oleh banyak orang. Bukan soal darahnya, tapi karena saya sering berada di tengah. Kadang rapi, kadang berantakan. Kadang tegas, kadang lunak. Kadang ingin sistem, kadang ingin kabur dari sistem. Dan kalau saya benar-benar AB secara biologis, mungkin saya sudah lama kena label: ribet.
Tapi hidup mengajari saya satu hal pelan-pelan:
manusia itu tidak pernah utuh kalau dipotong dari satu sisi saja.
Golongan darah mungkin membantu dokter.
Bukan untuk memutuskan siapa pantas dipercaya, dicintai, atau diberi kesempatan.
Saat saya mulai lelah mengamati manusia, saya sadar: yang sebenarnya ingin saya endapkan bukan penilaian terhadap orang lain, tapi ego saya sendiri. Ego yang ingin cepat paham, cepat mengelompokkan, cepat merasa “oh, pantas saja dia begitu”.
Padahal mungkin tidak ada yang “pantas”.
Yang ada hanya manusia yang sedang berusaha hidup dengan caranya masing-masing—dengan darah apa pun yang mengalir di tubuhnya.
Dan sejak itu, setiap kali ada yang bertanya, “Kamu golongan darah apa?”, saya ingin menjawab pelan dalam hati:
entahlah, tapi hari ini saya sedang belajar jadi manusia dulu.
0 komentar