Surat Rekomendasi untuk Membuat Facebook
Saya termasuk generasi awal yang punya akun media sosial. Saat Facebook baru muncul, saya bukan hanya pengguna, tapi juga semacam “orang IT darurat” di lingkungan kampus. Paham fitur besar, tahu alurnya, dan—di masa itu—bahkan bisa melakukan hal-hal yang sekarang terdengar seperti cerita urban legend: mengambil alih akun orang lain dengan relatif mudah.
Awalnya menyenangkan. Ada rasa berguna. Ada rasa dibutuhkan. Dosen minta dibuatkan akun, mahasiswa minta diajari, civitas akademika datang dengan wajah penuh harap. Saya bantu sebisanya.
Masalahnya, kebutuhan manusia itu tidak pernah berhenti di “sebisa mungkin”.
Lama-lama kalimat yang datang bukan lagi, “Boleh minta tolong?” tapi berubah jadi, “Bang bikinin Facebook dong.”
Atau yang lebih absurd, “Bang, bisa ambil alih Facebook pacar saya nggak?”
Di titik itu, saya lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah batin. Lelah karena peran “orang yang bisa” perlahan berubah jadi “orang yang wajib”.
Dan seperti banyak manusia lelah lainnya, saya mulai mencari pelampiasan kecil. Bukan pelampiasan besar yang destruktif, cukup yang membuat jiwa saya sedikit puas. Lalu datanglah satu momen yang, sampai sekarang, masih membuat saya tersenyum kecut saat mengingatnya.
Seorang adik tingkat datang dengan permintaan klasik: minta dibuatkan akun Facebook.
Entah kenapa, hari itu saya sedang ingin terdengar elit. Bukan elit pintar, tapi elit absurd. Dengan wajah tenang dan nada serius, saya bilang padanya bahwa ada perubahan kebijakan dari Facebook. Sekarang, katanya, untuk membuat akun dibutuhkan dokumen rekomendasi.
Rekomendasi dari mana?
Dari divisi akademik kampus.
Surat resmi yang menyatakan bahwa seseorang layak memiliki akun Facebook.
Ia terdiam. Lalu marah. Merasa dibohongi. Merasa dipermainkan. Dan tentu saja, pergi dengan kesal.
Di situ saya berdiri di dua perasaan yang bertabrakan.
Satu sisi, saya sadar: ini jahat.
Sisi lain, ada rasa puas kecil yang memalukan: akhirnya saya bisa berhenti sebentar tanpa harus bilang “tidak” secara langsung.
Saya tidak bangga pada kejadian itu. Tapi saya juga tidak menyangkalnya. Itu adalah potret manusia yang kelelahan, lalu memilih humor sebagai jalan keluar—humor yang tidak selalu sehat, tapi jujur.
Belakangan saya mengerti: humor sering muncul bukan dari kecerdasan semata, tapi dari batas. Dari titik ketika seseorang sudah terlalu sering diminta, terlalu jarang ditanya apakah ia sanggup.
Hari itu, saya tidak sedang ingin lucu. Saya hanya ingin bernapas.
Dan mungkin, kalau dipikir sekarang, adik tingkat itu memang tidak butuh Facebook. Yang lebih saya butuhkan saat itu adalah satu hal sederhana: hak untuk capek tanpa harus menjelaskan panjang lebar.
Sejak saat itu saya belajar satu hal kecil tentang diri sendiri:
ketika lelah tidak diakui, ia akan mencari jalan keluar sendiri. Kadang lewat diam. Kadang lewat marah. Kadang—seperti hari itu—lewat surat rekomendasi fiktif untuk membuat akun Facebook.
Kalau diingat lagi, saya tetap tersenyum. Bukan karena merasa benar, tapi karena akhirnya bisa menerima: saya juga manusia biasa, yang sesekali butuh bercanda… bahkan dengan cara yang agak nyeleneh.
0 komentar