Saat Air Keruh Memilih Diam

by - 10:42 AM

Awalnya seperti kolam yang terus diaduk.

Airnya keruh, lumpurnya naik, pandangan tidak pernah benar-benar jernih. Setiap kali saya bertanya tentang pola, makna, atau kerangka hidup, rasanya seperti ada tangan lain yang ikut mengaduk air itu. Semakin ingin paham, semakin keruh rasanya.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul bukan karena ingin terlihat pintar, tapi karena ada kegelisahan kecil yang belum tahu harus duduk di mana. Seperti anak kecil yang berdiri di pinggir kolam sambil bertanya, “Kenapa airnya begini?” lalu mencelupkan tangan lagi, tanpa sadar justru membuat air makin tidak bening.

Lalu di satu titik, saya berhenti.
Bukan karena semua pertanyaan terjawab, tapi karena saya menyadari sesuatu yang sederhana: lumpur memang ada di bawah. Tidak pernah benar-benar pergi. Dan mungkin, tidak perlu.

Saat saya mulai menggunakan bahasa simbol—tentang dua sosok yang satu memilih menyerap dan diam, sementara yang lain ingin membalas dan bertarung—sesuatu berubah. Bukan di luar, tapi di dalam. Saya tidak lagi sibuk menilai mana yang benar, mana yang salah. Saya hanya melihat: oh, rupanya dua-duanya bagian dari sistem yang sama.

Di titik itu, air tidak tiba-tiba menjadi suci atau sempurna. Air hanya dibiarkan tenang. Tidak lagi diaduk. Dan pelan-pelan, tanpa diperintah, kejernihan muncul sendiri di permukaan. Lumpur tetap di bawah, tapi tidak lagi menguasai pandangan.

Saya sadar, banyak pertanyaan sebelumnya bukan tentang dunia, tapi tentang diri sendiri yang belum selesai mengendap. Dan ketika berhenti mengaduk, benang merah yang selama ini dicari tidak perlu lagi ditarik keras-keras. Ia terlihat dengan sendirinya.

Bacaan yang mempengaruhi cara berpikir, konflik batin yang bertabrakan dengan realitas, dorongan untuk menjelaskan segalanya—semua itu ternyata bukan musuh. Mereka hanya fase air keruh yang butuh waktu untuk diam.

Kini, ketika bertanya lagi, rasanya berbeda. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi ingin cepat sampai pada kesimpulan. Lebih seperti duduk di tepi kolam, melihat air yang sudah cukup bening untuk memantulkan bayangan sendiri.

Dan mungkin, di situlah tenangnya berada.
Bukan saat lumpur hilang,
tapi saat kita tidak lagi takut melihat bahwa lumpur itu memang bagian dari kolam.

You May Also Like

0 komentar