Saya Menjawab Orang Lain, Tapi yang Sebenarnya Saya Tegur Adalah Diri Sendiri

by - 8:21 PM

Ada satu momen ketika seseorang datang bertanya tentang usaha daster yang saya jalani. Bukan dengan nada basa-basi, tapi dengan kesungguhan. Ia duduk, mendengar, dan memberi ruang. Di titik itu saya tahu, ini bukan sekadar ingin tahu, ini ingin masuk. Maka saya tidak memberi resep instan. Saya memilih bercerita.

Saya bicara tentang kepala yang harus dijaga tetap waras. Tentang emosi yang saling tumpang tindih—antara ingin berkembang dan ingin berhenti sebentar. Tentang ritme yang kalau salah atur, bisa membuat diri sendiri ambruk pelan-pelan. Posisi saya saat itu seperti petapa yang kebetulan sedang didatangi anak kemarin sore. Bukan merasa lebih tinggi, tapi merasa sudah pernah jatuh di lubang yang sama.

Seperti dugaan saya, ia mundur. Pelan. Tidak dramatis. Dan di saat itu, ada rasa lega yang muncul. Bukan lega karena merasa paling tahu. Bukan juga karena berhasil “menyadarkan”. Tapi lega yang aneh—seperti emosi bertumpuk yang akhirnya menemukan jalan keluar. Semacam pelampiasan. Kalau jujur, ada sisi jahat di situ. Dan saya menyadarinya tanpa perlu membela diri.

Selama ini, saat kepala penuh, saya menulis. Blog, catatan, artikel. Semua rapi, semua tenang, semua pasif. Seperti menulis di buku diari lalu menutupnya kembali. Tidak ada pantulan. Tidak ada reaksi. Tidak ada jeda untuk menyadari: oh, ini berat juga ya.

Dan hari itu saya tertawa getir. Ternyata apa yang saya sampaikan kepadanya bukan sekadar realitas usaha. Itu adalah isi kepala saya sendiri. Saya sedang berbicara tentang diri saya—tentang lelah yang ditahan, tentang kewarasan yang dirawat dengan susah payah. Realitasnya memang benar, tapi kenyataan lainnya juga benar: ego saya ikut ditumpahkan di sana.

Di situ kritiknya muncul, pelan tapi menohok. Kadang kita merasa sedang membantu orang lain, padahal sedang mencari tempat aman untuk meluapkan diri. Kadang kita menyebutnya kejujuran, padahal itu juga bentuk kelegaan pribadi. Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya bersih. Dan tidak apa-apa untuk mengakuinya.

Kesimpulannya tidak ingin terdengar bijak. Saya hanya mencatat satu hal untuk diri sendiri:
bercerita tentang realitas orang lain sering kali adalah cara paling jujur untuk membuka realitas diri sendiri. Bedanya, jika tidak disadari, ia berubah jadi pelampiasan. Jika disadari, ia bisa jadi perawatan.

Hari itu, saya tidak mengajari siapa pun. Saya hanya tanpa sengaja membuka pintu emosi yang lama saya simpan. Dan mungkin, itu yang membuat saya lega. Bukan karena orang lain mundur, tapi karena akhirnya saya berani melihat ke dalam, tanpa perlu berpura-pura sedang memberi jawaban.

You May Also Like

0 komentar