Saya Tidak Benci Kekuasaan, Saya Hanya Tidak Pandai Menyembah

by - 7:40 AM

Sejak kecil, ada satu pemandangan yang selalu membuat batin saya mengernyit. Bukan marah, bukan benci—lebih ke satu kata yang terus berulang: seharusnya tidak begitu.

Setiap kali ada kunjungan pejabat desa ke kampung, suasananya berubah drastis. Warga menyambut seperti kedatangan seorang pahlawan. Ada wajah-wajah yang mendadak ramah, langkah yang tergesa, dan tangan-tangan yang menyiapkan hadiah. Ayam kampung, utuh.

Padahal saya tahu persis nilai ayam itu. Mahal. Tidak mudah didapat. Di rumah kami, ayam kampung bukan menu harian, bahkan bukan mingguan. Biasanya hanya muncul setahun sekali, saat Idul Fitri. Itupun tidak selalu kebagian bagian terbaik—lebih sering ceker, kadang kepala. Maka ketika ayam kampung diberikan begitu saja kepada seseorang yang datang dengan mobil dinas, batin saya bertanya pelan: kenapa harus segitunya?

Saya tidak pernah kehilangan respek pada pejabat. Tidak dulu, tidak sekarang. Mereka manusia. Kebetulan diberi mandat untuk mengurus hajat hidup orang banyak. Itu tugas, bukan status sakral. Hormat, iya. Menghargai, tentu. Tapi menundukkan diri sampai lupa posisi sendiri—itu yang sejak kecil tidak pernah bisa saya terima sepenuhnya.

Saat dewasa dan berinteraksi langsung dengan pejabat dalam konteks pekerjaan atau urusan pemerintahan, sikap saya tetap sama. Biasa saja. Tidak tergopoh-gopoh, tidak dibuat kecil. Saya berbicara dengan hormat sebagaimana saya berbicara kepada manusia lain. Tidak lebih, tidak kurang.

Lucunya, standar hormat itu justru konsisten saya terapkan ke semua lapisan. Kepada tukang parkir, petugas kebersihan, penjaga malam—yang sering dianggap remeh bahkan dianggap “sampah” oleh sebagian orang—saya justru berusaha ekstra menjaga sikap. Mereka sedang berusaha hidup dengan caranya. Apa bedanya dengan pejabat? Bahkan jika bicara fasilitas, pejabat sudah sangat tercukupi. Dalam pandangan saya, lebih dari cukup.

Di titik ini saya mulai menyadari, yang saya tolak bukanlah jabatan, melainkan budaya menyembah. Budaya yang membuat kita lupa bahwa mandat itu berasal dari rakyat, bukan sebaliknya. Bahwa penghormatan seharusnya tidak lahir dari rasa takut atau kagum berlebihan, tapi dari kesadaran bahwa kita sama-sama manusia.

Kritik yang perlu saya luruskan ke diri sendiri juga ada. Bisa jadi sikap “biasa saja” ini, bagi sebagian orang, tampak dingin atau kurang ajar. Tidak semua orang tumbuh dengan kegelisahan yang sama. Ada yang memberi karena tulus, ada yang hormat karena terbiasa. Saya tidak berhak menghakimi mereka. Yang bisa saya lakukan hanyalah menjaga agar seharusnya versi saya tidak berubah menjadi kesombongan moral.

Kesimpulannya sederhana, tapi tidak ringan:
Saya ingin hidup di dunia di mana hormat tidak menghapus martabat diri sendiri. Di mana kekuasaan tidak perlu disambut dengan pengorbanan yang seharusnya milik keluarga sendiri. Dan di mana menghargai manusia tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kenyataan bahwa ia juga sedang menjalani hidup.

Mungkin ini tidak populer. Tapi sejauh ini, kegelisahan kecil ini justru menjaga saya tetap waras.

You May Also Like

0 komentar