Man Jadda Wajada: Mereka yang Bersungguh-Sungguh Tidak Selalu Menang, Tapi Selalu Sampai
Dulu saya memahami man jadda wajada secara lurus dan keras:
siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil.
Berhasil diukur dengan hasil, capaian, posisi, angka, atau pengakuan.
Tanpa sadar, kalimat itu saya jadikan mesin.
Saya memaksa tubuh dan batin untuk terus berlari, seolah lelah adalah tanda kurang iman, kurang usaha, atau kurang tekad.
Saya overclock diri sendiri—dan menyebutnya kesungguhan.
Tapi hidup tidak sesederhana itu.
Di tengah perjalanan, saya mulai bertanya:
jika saya sudah bersungguh-sungguh, tapi hasilnya tidak seperti yang saya bayangkan—apakah saya gagal?
Atau jangan-jangan saya salah memahami apa itu wajada?
Pelan-pelan, maknanya bergeser.
Saya menyadari bahwa jadda bukan sekadar kerja keras, melainkan keberanian untuk masuk ke dalam proses tanpa jaminan menang.
Dan wajada bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang menemukan.
Menemukan batas.
Menemukan luka.
Menemukan ilusi yang selama ini saya rawat.
Menemukan bahwa tidak semua kebaikan harus dibayar dengan penerimaan orang lain.
Saya melihatnya nyata saat harus melepas karyawan.
Ia mengatakan saya berubah.
Dan benar—saya berubah.
Bukan karena tiba-tiba menjadi dingin, tapi karena saya berhenti menjadi orang yang terus menahan kecewa demi menjaga suasana.
Perubahan itu bukan ledakan.
Ia akumulasi.
Tabungan rasa yang tak pernah ditarik, sampai akhirnya jatuh tempo.
Di titik itu, saya tidak merasa menang.
Saya juga tidak merasa bersalah.
Yang ada hanya rasa lega—seperti seseorang yang akhirnya berdiri tegak setelah lama membungkuk.
Di sana saya mengerti:
wajada bukan pembenaran moral,
melainkan kejernihan batin.
Istri saya sejak lama melihat hal ini lebih dulu.
Ia meminta saya berhenti menjadi people pleaser, bukan karena menjadi orang baik itu salah, tetapi karena kebaikan tanpa batas sering berubah menjadi penghapusan diri.
Kami baru bertemu di satu titik pemahaman yang sama ketika pengalaman itu benar-benar terjadi.
Bukan karena diksi yang salah,
melainkan karena makna memang baru terasa setelah dijalani.
Saya juga belajar bahwa bersungguh-sungguh mencari tidak selalu membuat orang semakin religius, dan tidak selalu membuatnya menjauh dari Tuhan.
Ada yang mencari lalu menemukan iman.
Ada yang mencari lalu menemukan keraguan.
Ada pula yang tidak mencari, tapi memutuskan.
Dalam kacamata man jadda wajada, semuanya adalah bentuk wajada—selama ia lahir dari kejujuran, bukan kemalasan berpikir.
Tuhan tidak gentar pada pertanyaan yang lahir dari pencarian.
Yang rapuh justru iman yang tidak pernah diuji.
Saya merasakannya saat melantunkan ayat Al-Qur’an di perjalanan mengantar anak ke sekolah.
Batin tenang, bukan karena saya sedang memecahkan makna,
tetapi karena untuk sekali ini saya berhenti mencari.
Psikologi menjelaskannya sebagai ritme, repetisi, rasa aman.
Filsafat menyebutnya kehadiran.
Iman menyebutnya sakinah.
Apakah hanya Al-Qur’an yang memberi ketenangan?
Tidak.
Sastra lain juga mampu.
Tapi bagi saya, ini adalah bahasa yang sejarahnya sudah menyatu dengan luka, harapan, dan identitas—maka resonansinya berbeda.
Dan di situ lagi-lagi saya memahami man jadda wajada bukan sebagai slogan produktivitas,
melainkan peta perjalanan menjadi manusia.
Kini, saat saya menikmati secangkir kopi—bahkan kopi instan—saya tahu seluruh proses di baliknya.
Saya pernah mengunyah tanahnya, menghafal cuacanya, mencemaskan hamanya.
Hari ini saya minum tanpa berjaga.
Bukan karena saya bodoh,
tapi karena saya sudah tahu cukup banyak untuk tidak lagi cemas.
Saya belum sampai pada titik “selesai”.
Mungkin memang tidak ada.
“Sampai” bukan berarti berhenti berjalan.
“Sampai” adalah saat kita tidak lagi berperang dengan diri sendiri di tengah perjalanan.
Dan jika suatu hari saya mengajarkan ini kepada anak-anak saya,
saya tidak akan berkata: bersungguh-sungguhlah agar kamu berhasil.
Saya akan berkata:
belajarlah berjalan dengan jujur. Kalau kamu mau belajar, mau mendengar, dan mau berlatih—kamu akan menemukan sesuatu. Dan itu lebih penting daripada menang.
Mungkin itulah makna terdalamnya:
Man jadda wajada bukan janji keberhasilan.
Ia adalah jaminan bahwa kesungguhan tidak akan berakhir kosong.
Entah yang kita temukan disebut berhasil, gagal, atau pulang ke diri sendiri.
Dan bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.
0 komentar